Recent Article

Kata - Kata Hikmah Khulafa'ur Rasyidin

Syd. Abu Bakar ra. Berkata :

Orang yang bakhil itu tidak akan terlepas daripada salah satu daripada 4 sifat yang
membinasakan, yaitu:

· Ia akan mati dan hartanya akan diambil oleh warisnya, lalu dibelanjakan bukan pada
tempatnya.
· Hartanya akan diambil secara paksa oleh penguasa yang zalim.
· Hartanya menjadi rebutan orang-orang jahat dan akan dipergunakan untuk kejahatan
pula.
· Adakalanya harta itu akan dicuri dan dipergunakan secara berfoya-foya pada jalan
yang tidak berguna.

Syd. Umar Ibnu Khattab ra. berkata :
· Orang yang banyak ketawa itu kurang wibawanya.
· Orang yang suka menghina orang lain, dia juga akan dihina.
· Orang yang menyintai akhirat, dunia pasti menyertainya.
· Barangsiapa menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatan dirinya akan terjaga.

Syd. Usman Ibnu Affan ra. berkata :
Antara tanda-tanda orang yang bijaksana itu ialah:
· Hatinya selalu berniat suci
· Lidahnya selalu basah dengan zikrullah
· Kedua matanya menangis kerana penyesalan (terhadap dosa)
· Segala perkara dihadapainya dengan sabar dan tabah
· Mengutamakan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia.

Syd. Ali Karramallahu Wajhah berkata :
· Tiada solat yang sempurna tanpa jiwa yang khusyu'.
· Tiada puasa yang sempurna tanpa mencegah diri daripada perbuatan yang sia-sia.
· Tiada kebaikan bagi pembaca al-Qur'an tanpa mengambil pangajaran daripadanya.
· Tiada kebaikan bagi orang yang berilmu tanpa memiliki sifat warak (memelihara diri
dan hati- hati dari dosa).
· Tiada kebaikan mengambil teman tanpa saling sayang-menyayangi.
· Nikmat yang paling baik ialah nikmat yang kekal dimiliki.
· Doa yang paling sempurna ialah doa yang dilandasi keikhlasan.
· Barangsiapa yang banyak bicara, maka banyak pula salahnya,siapa yang banyak
salahnya, maka hilanglah harga dirinya,siapa yang hilang harga dirinya, bererti dia
tidak warak.Sedang orang yang tidak warak itu bererti hatinya mati.
{[['']]}

Keutamaan 10 Hari Terakhir Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang agung, bulan yang selalu dijadikan momentum untuk meningkatkan kebaikan, ketakwaan serta menjadi ladang amal bagi orang-orang yang shaleh dan beriman kepada Allah SwT.
Tidak terasa, Ramadhan tahun ini sudah mendekati akhir karena telah telah memasuki 10 hari terakhir. Sebagian ulama kita membagi fase bulan Ramadhan dengan tiga bagian. Fase pertama, yaitu 10 hari pertama adalah sebagai fase rahmat, 10 hari kedua atau pertengahan adalah fase maghfiroh, serta fase ketiga atau 10 hari terakhir adalah fase pembebasan dari api neraka. Maka saat ini kita berada dalam fase ketiga, yaitu fase pembebasan dari api neraka. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Salman al- farisi, “Adalah bulan Ramadhan, awalnya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan dari api neraka.”
Rasulullah Muhammad Saw, yang merupakan manusia terpilih dan suri tauladan terbaik bagi kita, jika Ramadhan memasuki 10 hari terakhir, maka beliau semakin memaksimalkan diri dalam beribadah. Beliau menghidupkan malam harinya untuk mendekatkan diri kepada Allah SwT, bahkan beliau membangunkan keluarganya agar turut beribadah. Dari Aisyah r.a., ia menceritakan tentang keadaan Nabi Saw ketika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, “Beliau jika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, mengencangkan ikat pinggang, menghidupakn malamnya dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari).
Rasulullah Saw sangat memerhatikan 10 hari terakhir bulan Ramadhan karena di dalamnya begitu banyak keutamaan yang bisa didapatkan pada waktu-waktu tersebut. Beberapa di antaranya: Pertama, sebagaimana sudah lazim kita pahami bahwa sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan adalah turunnya lailatul qadr. Malam yang sangat dinantikan untuk didapatkan oleh orang-orang yang melaksanakan ibadah puasa dengan penuh keimanan dan pengharapan ridha Allah SwT, karena pada malam tersebut siapa saja yang beribadah kepada Allah SwT dengan penuh keimanan dan pengharapan kepada Allah SwT maka nilai ibadahnya sama dengan bernilai ibadah selama 1000 bulan yang juga berarti sama dengan 83 tahun 4 bulan. Sebagaimana firman Allah SwT dalam surat Al-Qadr ayat 3: “Lailatul Qdr itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3).
Tentunya dengan mendapatkan lailatul qadr adalah suatu hal yang sangat membahagiakan bagi orang yang beriman yang melaksanakan ibadah puasa dengan penuh keimanan kepada Allah SwT. oleh karenanya, pada hari 10 terakhir ini tidak sedikit dari kaum muslimin yang melakukan i’tikaf di masjid agar rangkaian ibadah yang dilaksanakan, shalat malam, tadarus Al-Qur’an, berdzikir dan amalan-amalan lainnya dapat dilaksanakan dengan khusyuk, tentunya dengan tujuan lailatul qadr dapat diraih. Pada malam tersebut keberkahan Allah swT melimpah ruah, banyaknya malaikat yang turun pada malam tersebut, termasuk Jibril a.s. Allah SwT berfirman: “Malam itu (penuh) kesejahteraan hingga terbit fajar.” (QS. Al-Qadr; 5).
Dalam sebuah hadits shahih Rasulullah saw juga menyebutkan tentang keutamaan melakukan qiyamullail di malam tersebut. Beliau bersabda. “Barangsiapa melakukan shalat malam pada lailatul qadr karena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Keutamaan kedua adalah sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan merupakan pamungkas bulan ini, sehingga hendaknya setiap insan manusia yang beriman kepada Allah SwT mengakhiri Ramadhan dengan kebaikan, yaitu dengan berupaya dengan semaksimal mungkin mengerahkan segala daya dan upayanya untuk meningkatkan ibadah pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. Karena amal perbuatan itu tergantung pada penutupnya atau akhirnya.
Rasullah Saw bersabda: “Ya Allah, jadikan sebaik-baik umurku adalah penghujungnya. Dan jadikan sebaik-baik amalku adalah pamungkasnya. Dan jadikan sebaik-baik hariku adalah hari di mana saya berjumpa dengan-Mu kelak.”
Dengan demikian mari kita maksimalkan sisa-sisa bulan Ramadhan ini dengan meningkatkan amaliyah ibadah kita kepada Allah SwT dengan qiyamullail (menghidupkan malam) pada bulan Ramadhan, khususnya pada malam-malam penghujung bulkan ini. Semoga kita mendapatkan segala limpahan kemuliaan dari Allah SwT. Amiiiin……
{[['']]}

Rumah Tempat Tinggal, Suatu Nikmat yang Terlupakan


Rumah adalah suatu nikmat dari Allah yang terkadang, bahkan sering ‘dilupakan’ oleh manusia. Padahal dengan adanya rumah, manusia bisa mendapatkan banyak sekali kemudahan dan kesenangan dalam hidup.
Allah mengingatkan kita akan kenikmatan ini dalam surat An-Nahl: 80,
وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ سَكَنًا
Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal …”.
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat di atas, “Allah mengingatkan akan kesempurnaan nikmat yang Dia curahkan atas para hamba-Nya, berupa rumah tempat tinggal yang berfungsi untuk memberikan ketenangan bagi mereka. Mereka bisa berteduh (dari panas dan hujan) dan berlindung (dari segala macam bahaya) di dalamnya.  Juga bisa mendapatkan sekian banyak manfaat lainnya”.
Tidak Adanya Rumah Adalah Kesedihan Dan Kesusahan
Nikmat baru terasa tatkala lenyap. Begitulah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan hal ini. Ya, dengan hilang dan rusaknya rumah, kita baru merasakan betapa besar nikmat tersebut. Terkadang, Allah ta’ala menghukum dan menyiksa suatu kaum dengan cara menghancurkan rumah-rumah mereka.
Lihatlah bagaimana Allah menghukum Bani Nadhir dengan menghancurkan rumah-rumah mereka! (Baca: Q.S. Al-Hasyr: 2).
Lihat pula, bagaimana Allah menyiksa kaum Tsamud dengan meruntuhkan rumah tempat tinggal mereka, padahal sebelumnya mereka berbangga-bangga dengan rumah tersebut! (Cermati: Q.S. An-Naml: 51,52, Q.S. Al-A’raf: 74 dan Q.S. Al-Fajr: 9).
Kewajiban Kita Adalah Mensyukuri Nikmat
Allah berfirman,
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
(Ingatlah), tatkala Rabb-mu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian. Dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Q.S. Ibrahim: 7).
Di antara bentuk syukur atas nikmat rumah adalah:
  1. Mengakui dan meyakini dalam hati dengan sebenar-benarnya bahwa rumah adalah pemberian Allah, bukan semata karena usaha kita atau pemberian orang tua.
  2. Mengungkapkan rasa syukur dengan lisan dan menceritakan kenikmatan tersebut, dalam rangka mengingat-ingat kenikmatan, bukan dalam rangka berbangga atau sombong.
  3. Menggunakan rumah tersebut untuk menjalankan ketaatan kepada Allah semata dan menjauhkan segala bentuk kemaksiatan kepada-Nya. Di antara ketaatan terbesar yang harus dilakukan di dalam rumah kita adalah mentauhidkan (meng-esakan) Allah serta mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dalam setiap amalan kita. Dan di antara kemaksiatan terbesar yang harus dihindarkan dari rumah kita adalah kesyirikan.
{[['']]}

7 Sunnah Rasulullah

Cerdasnya orang yang beriman adalah, dia yang mampu mengolah hidupnya yang sesaat, yang sekejap untuk hidup yang panjang. Hidup bukan untuk hidup, tetapi hidup untuk Yang Maha Hidup. Hidup bukan untuk mati, tapi mati itulah untuk hidup.

Kita jangan takut mati, jangan mencari mati, jangan lupakan mati, tapi rindukan mati. Kerana, mati adalah pintu berjumpa dengan Allah SWT. Mati bukanlah cerita dalam akhir hidup, tapi mati adalah awal cerita sebenarnya, maka sambutlah kematian dengan penuh ketakwaan.

Hendaknya kita selalu menjaga tujuh sunnah Nabi setiap hari. Ketujuh sunnah Nabi SAW itu adalah:

Pertama,
tahajjud, kerana kemuliaan seorang mukmin terletak pada tahajjudnya.

Kedua,
membaca Al-Qur'an sebelum terbit matahari Alangkah baiknya sebelum mata melihat dunia, sebaiknya mata membaca Al-Qur'an terlebih dahulu dengan penuh pemahaman.

Ketiga,
jangan tinggalkan masjid terutama di waktu shubuh. Sebelum melangkah kemana pun langkahkan kaki ke masjid, kerana masjid merupakan pusat keberkahan, bukan kerana panggilan muadzin tetapi panggilan Allah yang
mencari orang beriman untuk memakmurkan masjid Allah.

Keempat,
jaga solat dhuha, kerana kunci rezeki terletak pada solat dhuha.


Kelima,
jaga sedekah setiap hari. Allah menyukai orang yang suka bersedekah, dan malaikat Allah selalu mendoakan kepada orang yang bersedekah setiap hari.

Keenam,
jaga wudhu terus menerus kerana Allah menyayangi hamba yang berwudhu. Kata khalifah Ali bin Abu Thalib, "Orang yang selalu berwudhu senantiasa ia akan merasa selalu solat walau ia sedang tidak solat, dan dijaga oleh malaikat dengan dua doa, ampuni dosa dan sayangi dia ya
Allah".

Ketujuh,
amalkan istighfar setiap saat. Dengan istighfar masalah yang terjadi kerana dosa kita akan dijauhkan oleh Allah.
{[['']]}

Siapa Ulama Penerus Nabi Muhammad SAW ?

Allah SWT Berfirman : “Aku akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu”. Nabi SAW bersabda : “Ulama adalah pewaris-pewaris Rasulullah SAW”Siapa ulama penerus Nabi Muhammad SAW?
Di dalam Al-Qur`an dan Hadits di atas banyak pendapat bahwa Ulama adalah penerus Nabi Muhammad SAW yang diteruskan oleh sahabat-sahabatnya, diantaranya :
1. Sayyidina Abubakar Assiddiq RA
2. Sayyidina Umar bin Khatab RA
3. Sayyidina Ustman bin Affan RA
4. Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA
Setelah kewafatan para sahabat periwayat-periwayat hadits dan Al-Qur`an diteruskan oleh para ulama, diantaranya :
1. Imam Maliki
2. Imam Hambali
3. Imam Syafi`i
4. Imam Hanafi
Seluruh Imam ini penerus Nabi Muhammad SAW yang mengajarkan tentang Allah dan Rasulullah SAW. Sampai hari ini, ajaran merekapun dilanjutkan oleh pengikut-pengikut mereka. Terutama di negeri kita Indonesia kebanyakan pengikut Imam Syafi`i.
Siapa Imam Syafi`i?
Beliau seorang ahli Fiqih, Tauhid dan Tasawuf. Hampir kurang lebih 150 Fak ilmu beliau kuasai. Karena kepintarannya beliau dijuluki Imam. Ajaran beliau di Indonesia khususnya mengajak kepada umat Rasulullah SAW untuk :
1. Tawakal (Menyerahkan diri kepada Allah SWT)
2. Qana`ah (Menerima sifat seadanya yang datang dari Allah SWT)
3. Wara’ (Berhati-hati didalam menjalankan agama)
4. Yakin (Percaya kepada Allah SWT dan apa-apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW)
Beliau menceritakan tentang Tawakal dalam kitab Tauhidnya, Qana`ah dalam kitab Fiqihnya, Wara' dalam kitab Tasawufnya dan Yakin dalam kitab Dzikirnya. Kesemua ini ilmu-ilmu beliau digunakan oleh para Wali-Wali Songo yang ada di Indonesia dan dibawa olehnya, diantara dzikir-dzikir yang dibawa oleh Imam Syafi`i dan para Wali Songo yang diteruskan olehnya :
1. Pembacaan Dzikir-dzikir shalat sunah maupun shalat wajib.
2. Pembacaan sejarah ringkas Nabi Muhammad SAW
Ajaran beliau diterima oleh seluruh rakyat Indonesia yang dibawa oleh para Wali Songo sampai ajaran ini dinamakan Ahlu Sunnah Wal Jama`ah yang diteruskan oleh Ulama-Ulama, Kyai dan para Habaib pada tahun 600 Hijriyah.
Ulama-ulama, kyai diseluruh Indonesia yang ber-Mahzab Imam Syafi`i menyebar di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi khususnya kota Jakarta bersama para Habaib. Jadi ajaran Imam Syafi`I telah lebih dahulu masuk ke negeri Indonesia sebelum ajaran-ajaran lain yang sudah demikian banyak di negeri Indonesia ini. Ajaran Imam Syafi`i lebih dikenal dekat oleh masyarakat dalam bentuk :
1. Pembacaan Yasin dan Tahlil
2. Pembacaan Ratib
3. Pembacaan Maulid
4. Pembacaan Manaqib Tuan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
5. Majlis-majlis ta`lim kitab kuning (penafsiran Al-Qur`an dan Hadits)
6. Memakai Usholi jika shalat
7. Memakai Qunut jika shalat Shubuh.
Dan masih banyak lagi yang lain yang berdasarkan Al-Qur`an dan Hadits Rasulullah SAW yang beliau bawa. Maka inilah yang disebut penerus-penerus ulama Rasulullah SAW yang wajib kita sebagai umat Islam tidak terpecah belah, ajaran-ajaran yang baru yang akan melupakan kita kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW dan para ulama yang membawa jasa seperti Imam Syafi`i dan para Wali Songo.
Demikianlah pengertian ulama-ulama Rasulullah yang wajib kita contohi dan kita ikuti agar kita selamat dari azab Allah SWT dan azab yang ada di dunia dan di akherat. Jadikanlah perbedaan itu bukan perpecahan karena Nabi SAW bersabda : “Apabila diakhir hayatnya manusia mengucapkan kalimat Laa IlahaIlallah maka dia terhitung manusia yang diridhoi Allah dalam khusnul khotimah”. Karena Allah SWT berfirman : ”Tidak ada pemaksaan di dalam agama”
Ummat Islam harus waspada terhadap hasutan dan usaha-usaha (sisa-sisa usaha) penjajah dan antek-antek Yahudi yang tidak menyenangi/ menghendaki kebesaran Islam dan Muslimin dan berupaya menghancurkan serta menghapuskan kawan-kawan Muslimin yang menjadi tujuan serta program dari mereka (Yahudi), Allah SWT berfirman : “Dan tidak akan pernah ridho orang-orang Yahudi dan Nasrani sampai kita mengikuti agama mereka”(QS Al-Baqarah 120). Dengan bermacam-macam dan berganti-ganti cara serta berusaha menunggangi/ memperalat orang Islam itu sendiri untuk memutuskan jalur silaturahmi ummat dengan Nabinya, Ulamanya dan Pemimpinnya baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.
Himbauan :
Carilah jalan yang telah bersambung kepada Al-Qur`an, Hadits, Ijma' dan Kias (contoh-contoh agama), melalui silsilah atau urutan ilmu yang tidak terputus dari Shalafuna Sholeh hingga kepada Rasulullah SAW, maka niscaya kita akan selamat di dunia dan di akhirat.
{[['']]}

Peran Thoriqoh Dalam Membersihkan Hati

Bila kita mau melihat lebih jauh tentang filosofis atau makna‘ Al Mudghoh’. Hati sering digunakan dengan maksud makna jiwa, dan hati yang bermakna liver. Untuk menggambarkan betapa pentingnya menjaga hati yang bermakna jiwa manusia saya akan menguraikan mudhgoh atau hati dalam hadis tersebut dengan makna liver. Ini analog saja untuk memudahkan pemahaman pada tujuan dari pembahasan kita ini.Mudghoh atau hati letaknya di dalam tubuh manusia. Tubuh manusia membutuhkan perhatian yang serius. Perlu kita ketahui bahwa penyakit-penyakit manusia bersumberkan dari hati . baik dan tidaknya metabolism tubuh seseorang tergantung pada baik dan tidaknya darah darah orang tersebut. Dan darah itu akan menjadi baik dan tidak tergantung dua hal:
Pertama; apa yang dimakan dan yang dan bagaimana cara memperoleh makanan itu. Apa yang dimakan adalah harus sehat, seperti buah-buahan, sayur-sayuran, daging-dagingan yang memperkuat stamina. Kemudian darimana yang kita makan atau bagaimana cara mendapatkan makanan itu. Yang jelas makanannya harus halal, halal disini sudak mencakup pengertian makanan itu diperoleh dengan cara yang benar.
Kedua darah itu baik dan tidaknya adalah bersumber dari pencernaan. Pencernaan yang berfungsi dengan baik akan membuat darah baik dan begitu juga sebaliknya; jika pencernaannya tidak berfungsi dengan baik maka darah yang dihasilkannya juga tidak baik.
Upaya untuk membantu memperbaiki pencernaan biasa kita lakukan paling tidak satu tahun sekali; yaitu puasa Ramadhan. Puasa Ramadhan diantara manfaatnya adalah membersihkan semua organ-organ manusia. Panasnya pencernaan orang-orang yang berpuasa akan membakar hal-hal yang negative dalam pencernaan seperti bachsil dan bakteri. Dan lain sebagainya. Dengan demikian pencernaan dapat kita analogikan seperti bejana yang kita gunakan untuk memasakn segala sesuatu.
Kita bayangkan seandainya bejana itu tidak pernah dicuci. Setalah kita gunakan untuk memasak ikan laut, kita gunakan untuk memasak telur, terus demikian silih beganti sehingga menimbulkan kerak pada bejana itu. Demikian pula pencernaan, kerak-kerak, imbas daripada yang kita makan lambat atau cepat mempengaruhi proses kerja perncernaan atas makanan yang kita konsumsi.
Sangat jelas sekali bahwa pencernaan tidak bisa bekerja sendiri. Hasil proses pencernaan dilimpahkan ke ginjal, pancreas sampai pada liver. Dari kerja sama yang kompak menghasilkan beberapa hal, diantaranya darah putih, darah merah, sperma, keringat, air kencing dan kotoran.
Dari hasil kerja sama yang baik antara organ tubuh manusia tersebut akan menghasilkan lima hal di atas yang baik pula. Bila akibat proses kerja pencernaan yang kurang baik sehingga terjadi darah kotor dalam tubuh manusia, maka sangat diperlukan sekali pembersih. Yang pertama untuk membersihkan pencernaan yang menjadi sumber pengelola makanan dalam tubuh. Kedua membersihkan apa yang telah di olah.
Tugas liver adalah menjatah atau menyalurkan darah ke jantung, ke otak kecil. Apakah tidak mungkin apabila darah atau kotoran akan mempengaruhi fisik otak manusia serta sarafnya. Sehingga kurang mampu untuk berfikir baik, membuka wawasan, dan pandangan yang jauh. Apalagi jelas kita tidak menginginkan pola fikir-pola fikir yang kurang baik. Yang tidak menguntungkan bagi pribadi kita, baik dalam urusan dunia dan maupun akhirat kita.
Dengan hasil darah yang baik, sehat, akan sangat membantu dalam kecerdasan; dari kecerdasan hati sampai kecrdasan akal. Sehingga menumbuhkan pola fikir dan wawasan serta pandangan yan jernih. Bisa memilah mana yang menguntungkan dalam dunia dan akhiratnya. Dan mana yang merugikan dalam kedua hal tersebut.
Secara fisik saja sangat memerlukan kesehatan dan kebersihan. Hati adalah bagian tubuh manusia yang sangat berperan dalam memberikan atau dalam mensuport pola fikir, wawasan dan pandangan manusia, karena hati adalah tempatnya iman dan tempatnya nafsu. Lalu apa yang terjadi jika kita tidak mempunyai alat untuk membersihkannya.
Kita harus memberikan makanan hati serta pembersihnya seperti ilmu ma’rifat dan lain sebagainya, yang terkait dengan keimanan serta pertumbuhannya. Paling tidak kita bisa memilih mana yang di dorong oleh imannya dan mana yang didorong oleh nafsunya.
Seperti masalah pencernaah diatas bukan sesuatu hal yang mustahil bilamana kita mendiamkan kotoran-kotoran hati maka akan mempengaruhi pola fikir yang pada dasarnya akan merugikan diri sendiri.
{[['']]}

Islam Melarang Umatnya Memohon untuk MATI



Rasulullah saw. Bersabda bermaksud: “Janganlah ada diantara kamu yang bercita-cita hendak mati. Sekiranya ia seorang yang baik mudah mudahan ia dapat menambahkan lagi kebaikan, dan sekiranya ia seorang yang jahat mudah mudahan ia dapat bertaubat kepada Allah.” (Riwayat Hadith Al-Bukhari dan Muslim)

Uraian:
• Haram hukumnya bagi seseorang muslim bercita cita dan berdoa untuk mati apabila hidup didalam kesengsaraan dan menderita.
• Setiap mukmin yang panjang umurnya mempunyai banyak peluang untuk ia beramal ibadat kepada Allah sebagai bekalan di akhirat nanti.
• Islam tidak membenarkan umatnya bercita cita untuk mati, tetapi menggalakkan umatnya supaya bercita cita untuk menambahkan ilmu pengetahuan demi kemajuan ummah.
{[['']]}

Khasiat Surah Al-Waaqi'ah

a. Barang siapa membaca Surat Al-Waaqiah setiap malam maka ia tidak akan tertimpa kekafiran selamanya (Hadits)

b. Kalau ingin mendapat murah rejeki dengan tanpa kesukaran hendaklah membaca empat puluh kalidalam satu majlis selama empat puluh hari,insya Allah terkabulkan.

c. Untuk memohon kepada Allah agar selalu murah rejeki , hedaklah dibaca setiap sesudah solat ashar, empat belas kali.
d. Membaca Surat Al-Waaqiah dengan dengan thoriqoh yang istimewa sebagai berikut: Riadloh berpuasa tujuh hari , mulai hari jum1at hingga hari kamis, selama ini sesudah setiap solatFardhu membaca duapuluh lima kali, dimulai sesudah solat subuhnya hari jum'at dan yang terakhir jatuh setelah sholat isya' malam jum'at kemudian, sebagai penutup, setelah membaca duapuluh lima kali, lalu ditambah lagi seratus dua puluh lima (125) kali dan bacaan sholawat seribu kali (1000) kali. selanjutnya sesudah setiap sesudah subuh dan magrib, supaya membaca sekali-sekali, Insya Allah menjadi orang Kaya.

e. Kalau dibacakan pada mayyit, maka Allah meringankan siksa terhadapnya, atau orang yang sedang sakit, maka redalah sakitnya, atau kepada orang yang keritis akan meninggal, maka segera keluarlah ruhnya dengan enak, atau kepada wanita yang hendak melahirkan agar mudah kelahirannya

Membaca Surat Al-Waaqi’ah dan memahami maknanya InsyaAllah kita terhindar dari api neraka. selain itu khasiat surah waqiah juga untuk memurahkan rizky.

oleh PASEBAN TOMBO ATI
{[['']]}

Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

Segala puji bagi Allah Tuhan segenap alam, shalawat dan salam atas nabi dan rasul termulia, Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam serta seluruh shahabatnya.

Termasuk karunia Allah Subhanahu Wata'ala dan pertolonganNya adalah menjadikan muslim kebaikan bagi hambaNya yang shalih dan memperpanjang umur mereka untuk menyongsong kebahagiaan dan kesejahteraan di hari kemudian. Waktu-waktu yang agung dan termulia itu diantaranya adalah sepuluh hari (awal) bulan Dzulhijjah. Dalil-dalilnya adalah:

Firman Allah Subhanahu Wata'ala artinya, “Demi fajar, dan malam yang sepuluh.” (Al-Fajar: 1-2) Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan, bahwa yang di maksud adalah 10 hari pertama pada bulan Dzulhijjah.

Firman Allah Subhanahu Wata'ala, artinya, “Pada hari-hari yang telah ditentukan.” (Al-Hajj: 28) Ibnu Abbas berkata yaitu: hari-hari sepuluh (Dzulhijjah).

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah bersabda, “Tiada amal ibadah di hari apapun yang lebih utama dari 10 hari ini” mereka bertanya, “tidak pula jihad? Rasulullah bersabda: “Tidak pula jihad, kecuali seseorang yang keluar mempertaruhkan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun.” (HR. Al-Bukhari)

Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuberkata: “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: “Tiada hari-hari yang paling agung di sisi Allah dan dicintaiNya untuk beramal di dalamnya dari pada 10 hari (Dzulhijjah) ini, maka perbanyaklah tahlil, takbir, dan tahmid pada saat ini.” (HR. At-Thabrani)

Ibadah Yang Dianjurkan Pada Hari-Hari Tersebut :

Shalat; Disunnahkan berangkat lebih awal menuju (jamaah) shalat fardhu. Memperbanyak shalat sunnah, karena hal itu merupakan sarana pendekatan yang paling utama.

Sahabat Tsauban radhiyallahu 'anhu berkata, saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda “Hendaklah kalian memperbanyak sujud kepada Allah. Kerena sesungguhnya tidaklah kalian sujud sekali saja, kecuali Allah akan mengangkat kalian semua kepadaNya dengan sujud itu satu derajat dan menggugurkan dengannya dari kalian satu dosa” (HR. Muslim) dan ini umumnya bagi setiap waktu.

Puasa: Diriwayatkan dari sahabat Hunaidhan bin Khalid dari istrinya dari sebagian istri Nabi berkata: “Adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa pada 9 Dzulhijjah, sepuluh Muharram dan tiga hari setiap bulan” (HR. Ahmad, Abu Daud dan An-Nasa’i)

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata tentang puasa di hari-hari sepuluh (awal) Dzulhijjah: “Sesungguhnya ia amat dianjurkan”

Takbir, tahlil dan tahmid; sebagaimana telah di nukil dari hadits Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu di atas: “Maka perbanyaklah tahlil, takbir dan tahmid”

Imam Al-Bukhari rahimahullah berkata: “Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu dan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu keluar ke pasar sambil mengumandangkan takbir dan orang-orang membaca takbir karena takbir beliau berdua.” Al-Bukhari juga mengatakan, “Umar bertakbir di kubah beliau di Mina sehingga jamaah masjid bertakbir mengumandangkannya dan bertakbir semua, penghuni pasar-pasar bertakbir sehingga Mina merata dengan gema takbir”.

Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu juga bertakbir di Mina di hari-hari itu, usai shalat fardhu, di atas kudanya, dalam tenda, di waktu duduk dan berjalannya, di hari itu seluruhnya disunnahkan mengeraskan takbir karena Umar, putranya dan Abi Hurairah melakukan demikian.

Puasa pada hari Arafah; bagi selain yang melaksanakan ibadah haji sangat dianjurkan berpuasa hari Arafah karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda tentang puasa Arafah ini, “Yaitu menjadi jaminan Allah untuk menghapus (dosa-dosa hamba) setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya” (HR. Muslim).

Keutamaan Hari Qurban

Banyak kaum muslimin yang lupa akan keagungan hari ini padahal para ulama berpendapat bahwa hari ini adalah hari yang paling utama dalam satu tahun secara mutlak bahkan melebihi hari Arafah.

Ibnu Qoyim berkata, “ Sebaik-baik hari disisi Allah adalah hari Raya Qurban, yaitu hari raya Haji yang agung”. Sebagaimana dijelaskan dalam Sunan Abu Dawud dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, “Sesungguhnya seagung-agung hari di sisi Allah adalah hari raya Qurban, kemudian hari menetap” (hari menetap yaitu hari menetap di Mina, yaitu tanggal sebelas). Demikian pula hari Arafah, yang juga sama-sama mulia dan agung.

Dengan Apa Menyambut Saat-Saat Kebajikan

Seyogyanya seluruh kaum Muslimin menyambut musim-musim kabajikan ini dengan bertaubat yang benar dan bersungguh-sungguh setulus hati meninggalkan dosa dan kemaksiatan, karena dosa menjadi sebab terhalanginya manusia dari fadhilah Tuhan dan menjadikan hatinya tertutup dari perlindunganNya.

Seyogyanya pula menyongsong dengan tekad dan kemauan yang kuat dan benar untuk merebut amalan-amalan yang diridhai Allah sebab orang yang bersungguh-sungguh menuju Allah, maka Allah pasti bersungguh-sungguh kepadanya.

Firman Allah Subhanahu Wata'ala, artinya, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al-Ankabut: 69)

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang, luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa” (QS. Ali Imran :133)

Maka marilah senantiasa bersemangat merebut kesempatan yang akan segera lewat, sebelum benar-benar terlewatkan hingga kita menyesal padahal penyesalan begini tidak berguna. Dan masuklah dalam golongan orang-orang yang dipuji Allah Subhanahu Wata'aladalam firmanNya, artinya, “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (QS. al-Anbiya: 90)

HUKUM HARI RAYA QURBAN

Hari raya ini adalah keistimewaan khusus buat umat kita, perayaan agama yang meriah, termasuk syiar dienul Islam, maka marilah kita berpartisipasi dan mengagungkannya. Allah Subhanahu Wata'ala berfirman, artinya, “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati”. (QS: al-Hajj: 32)

Adab-adab dan hukum Idul Adha:

Takbir, disyariatkan bertakbir mulai Shubuh hari Arafah (9 Dzulhijjah) sampai pada waktu Ashar di akhir hari Tasyriq (tanggal 13 Dzulhijjah).

Disunnahkan bagi kaum pria meninggikan suaranya di masjid-masjid pasar, rumah, juga setiap usai shalat wajib sebagai bukti mengagungkan Allah dan menampakkan ibadah dan syukur kepadaNya.

Menyembelih Qur’ban; Dilaksanakan setelah shalat hari raya, karena Rasul shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang menyembelih sebelum shalat maka hendaklah mengulangi berikutnya dan siapa belum menyembelih hendaklah menyembelih.” (HR. Al-Bukhari).

Waktu menyembelih adalah 4 hari, yaitu hari Idul Adha dan 3 hari Tasyrik (tanggal: 11, 12 dan 13) sebagaimana sabda Rasul shallallahu 'alaihi wasallam, “Seluruh hari Tasyrik adalah hari-hari menyembelih” (Silsilah hadits shahih No. 2476)

Mandi dan menggunakan minyak wangi bagi kaum lelaki; Berpakaian yang paling bagus tanpa berlebihan maupun terlalu panjang, tidak mencukur jenggot, karena hukumnya haram. Sedangkan bagi kaum perempuan disyariatkan keluar ke tempat shalat tanpa pakaian mewah dan tanpa minyak wangi. Jangan sampai dalam shalat yang tujuannya berbuat ketaatan kepada Allah, mereka malah memakai pakaian yang menentangNya, seperti pakaian mewah, membuka aurat dan wewangian di depan lelaki.
Makan daging Qurban: “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallamtidak makan sampai kembali dari shalat kemudian makan dari daging Qurban”.

Pergi ke tempat shalat Ied dengan berjalan kaki selagi tidak menyusahkan. Menurut sunnah, shalat hari Raya adalah dilaksanakan di tanah lapang kecuali ada halangan, seperti hujan, maka dilaksanakan di dalam masjid seperti yang dilakukan Rasul shallallahu 'alaihi wasallam.

Shalat bersama kaum muslimin, lalu mendengarkan khutbah. Berdasarkan firman Allah Subhanahu Wata'ala, yang artinya, “Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berkorbanlah” (QS. 108: 2)

Shalat Ied tidak boleh ditinggal kecuali karena udzur menurut syariat, kaum wanita diperintahkan mendatangi juga, termasuk wanita yang sedang haidh, juga orang tua, namun posisi wanita yang haidh menjauh dari tempat shalat.

Melewati jalan yang berbeda: Di sunnahkan bagi Anda berangkat ke mushalla (tempat shalat di lapangan) hari raya ini melewati satu jalan dan pulang lewat jalan yang lain, karena Rasulullah n melaksanakan demikian.

Mengucapkan selamat berhari raya di bolehkan seperti ucapan semoga Allah menerima amal ibadah kami dan Anda sekalian.

Berhati-hatilah saudara dari kesalahan sebagian manusia, di antaranya :

Takbir dengan berjamaah: dengan suara satu atau mengulang-ulang setelah takbir seseorang.

Perbuatan sia-sia yang diharamkan, seperti mendengarkan nyanyian, menonton film-film, berkencan maupun pertemuan lelaki dan perempuan selain mahram, dan kemaksiatan lainnya.

Memotong rambut dan kuku bagi yang akan berkorban sampai setelah menyembelih, karena dilarang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam .

Berpesta pora; berboros-borosan atau mubadzir tanpa ada keperluan dan kebaikan. (Waznin Mahfudh)

Sumber: Disarikan dari Nasrah Darul Qasim, Fadhlu ‘Arsy Dzilhijjah.

{[['']]}

KELEBIHAN ORANG FAKIR

Abul Laits Assamarqandi meriwayatkan dengan sanadnya dari Anas bin Malik r.a. berkata: "Orang-orang fakir mengutuskan utusan mereka kepada Nabi Muhammad s.a.w. maka berkata: "Ya Rasulullah, saya utusan fakir kepadamu." Jawab Nabi Muhammad s.a.w.: "Selamat datang kepadamu dan kepada orang-orang yang mengutuskanmu, engkau datang dari orang-orang yang dicintai Allah s.w.t." Utusan itu berkata: "Ya Rasulullah, orang-orang miskin berkata: "Bahawa orang-orang kaya telah memborong semua kebaikan, mereka berhaji dan kami tidak dapat, dan mereka sedekah sedang kami tidak dapat, dan jika sakit mereka mengirim wang untuk tabungan mereka." Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Sampaikan kepada orang fakir daripadaku: "Bahawa siapa yang sabar dari kamu akan mengharap pahala dari Allah s.w.t. Maka ia akan mendapat tiga macam yang tidak boleh didapati oleh orang-orang yang kaya yaitu:
Didalam syurga ada kamar dari yaqut yang merah, orang-orang syurga itu melihat tempat itu sama dengan orang dunia jika melihat bontang dilangit, tidak dapat masuk kesitu kecuali Nabi yang fakir atau orang yang mati syahid yang fakir atau seorang mukmin yang fakir.
Orang fakir yang masuk syurga sebelum orang kaya sekadar setengah hari iaitu sekira lima ratus tahun, mereka bersuka-suka dengan bebeas leluasa dan Nabi Sulaiman bin Daud a.s. akan masuk sesudah nabi-nabi yang lainnya sekira-kira empat puluh tahun disebabkan oleh kerajaan yang diberikan Allah s.w.t. kepadanya.
Jika orang fakir membaca: Subhaballah walhamdulillah walaa ilaha illalah wallahu akbar dengan tulus ikhlas dan orang kaya membaca itu, maka orang kaya itu tidak dapat mengejar orang fakir meskipun ditambah dengan sedekah sepuluh ribu dirham. Demikian amal-amal kebaikan yang lain-lainnya
Maka kembalilah utusan itu memberitahu kepada orang-orang fakir miskin apa yang disabdakan oleh Nabi Muhammad s.a.w. itu kepada mereka, maka mereka berkata: "Kami ridho, ya Tuhan, kami puas, ya Tuhan."
Abul Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Dzar r.a. berkata: "Saya dipesan oleh junjunganku Nabi Muhammad s.a.w. tujuh macam yang tidak samapai saya tinggalkan dan tidak akan saya tinggal semua itu iaitu:
Saya dipesan supaya suka kepada orang-orang miskin dan mendekati mereka
Saya dipesan supaya selalu melihat kepada orang-orang yang dibawahku dan tidak melihat pada orang-orang yang diatasku
Saya dipesan supaya tetap menghubungi kaum kerabat meskipun mereka jauh dan memutuskan hubungan
Saya dipesan supaya memperbanyakkan membaca: Laa haula walaa quwwata illa billahi, kerana itu sebagai perbendaharaan kebaikan atau tabungannya
Saya dipesan supaya jangan minta apapun dari sesama manusia
Saya dipesan supaya jangan takut didalam melaksanakan hukum Allah s.w.t. dari cela (ejekan) orang-orang yang mengejek
Saya dipesan supaya selalu berkata benar meskipun pahit dan berat
Dan adanya Abu Dzar jika jatuh pecut dari tangannya sedang ia diatas kenderaannya, maka tidak suka minta tolong kepada orang untuk mengambilkannya.
Abul Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Al-A'masy dari Khaitsamah berkata: "Malaikat berkata: "Ya Tuhan, hambaMu yang kafir itu Engkau lapangkan dunianya dan Engkau jauhkan daripada bala." Jawab Allah s.w.t.: "Kamu buka tempat siksanya." Dan ketika dilihat oleh malaikat mereka berkata: "Ya Robbi, tidak berguna apa yang mereka dapat dari dunia itu." Lalu malaikat itu berkata: "Ya Tuhan, hambaMu yang mukmin Engkau jauhkan daripadanya dunia dan Engkau hidangkan kepada bala." Allah s.w.t. berfirman:" Bukalah tempat pahalanya." Maka jika telah dilihat oleh malaikat, mereka berkata: "Tidak apalah bagi mereka apa yang mereka derita didunia."
Abul Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Dzar Alghifari r.a. berkata: Nabi Muhammad s.a.w. bersabda (Yang berbunyi): "Almuktsirun humul asfalun, illa man qaala bilmaali hakadza wahaa kadzaa waha kadza wahaa kadza wa qaliilun maahum." (Yang bermaksud): "Orang-orang yang banyak hartanya itu kelak yang paling bawah tempat mereka kecuali yang menggunakan harta itu begini dan begini dan begini dan begini dan begini (Yakni sedekah kekanan, kekiri, kemuka, kebelakang) Dan sedikit yang sedemikian."
Abul Laits berkata: "Orang kaya itu tempatnya dibawah orang yang miskin baik disyurga atau dineraka, kecuali orang yang selalu sedekah kekiri kanan, depan belakang dan sedikit sekali yang sedemikian sebab syaitan laknatullah merintangi mereka untuk sedekah."
Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Syaitan laknatullah berkata: "Orang kaya tidak dapat selamat dari tiga macam iaitu:
Saya perhias didalam pandangannya sehingga tidak dikeluarkan kewajipannya atau
Saya ringankan tangannya sehingga dikeluarkan tidak pada tempatnya atau
Saya cintakan dalam hatinya sehingga ia berusaha mendapatkannya walau tidak halal
Abud-Dardaa r.a. berkata: "Ketika Nabi Muhammad s.a.w. diutuskan, sedang saya ingin akan menghimpun antara dagang dengan ibadat, maka tidak dapat, maka saya tinggalkan dagangan dan tetap melakukan ibadat. Demi Allah yang jiwaku ada ditanganNya, saya tidak ingin mempunyai toko didekat masjid sehingga tidak ketinggalan sembahyang jamaah dan mendapat untung tiap harinya empat puluh dinar untuk bersedekah fisabilillah." Ketika ditanya: "Mengapakah tidak suka itu?" Jawabnya: "Kerana beratnya perhitungan hisab pada hari kiamat."
Abuhurairah r.a. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda (Yang berbunyi): "Allahumma man ahabbani farzuqhul afafaa walkafaafa, waman abghadhani faaktsir malahu wawaladahu." (Yang bermaksud): "Kefakiran itu sukar disunia senang diakhirat dan kekayaan itu kesenangan didunia dan kerosakan diakhirat."
Anas bin Malik r.a. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda (Yang berbunyi): "Inna likulli ahad hirfah, wahirfati itsnataan: Alfakru wal jihad, faman ahabbahuma faqad ahabbani waman abghadhahuma faqad abghadhani." (Yang bermaksud): "Tiap orang ada kesukaannya (pekerjaannya) dan kesukaanku fakir dan jidah, maka siapa suka pada keduanya bererti suka kepadaku dan siapa membenci keduanya itu bererti benci kepadaku."
Abul Laits berkata: "Seharusnya seorang muslim suka kepada orang fakir meskipun ia kaya, sebab cinta kepada orang fakir itu bererti cinta kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan juga Allah s.w.t. menyuruh Nabi Muhammad s.a.w. supaya cinta kepada orang-orang fakir miskin sepertimana firman Allah s.w.t. (Yang berbunyi): "Wasbir nafsaka ma alladzina yad uuna robbahum bil ghadaati wal asyiyi yuriduuna wajhahu." (Yang bermaksud): "Dan sabarkan dirimu berkumpul dengan orang-orang yang selalu berdoa kepada Tuhan pagi dan petang semata-mata kerana mengharap keridhoaanNya." (Surah Alkahfi ayat 28)
Sebab turun ayat ini kerana Uyainah bin Hishin Alfazari tokoh Bani Fazarah masuk ketempat Nabi Muhammad s.a.w. sedang disitu ada Salman Alfaritsi. Shuhaib bin Sinan Arrumi dan Bilal Alhabasyi dan lain-lainnya dari kaum dhu'afaa' (yang lemah lembut), mereka dengan pakaian yang jelek dan berbau peluh mereka, maka Uyainah berkata: "Kami ini adalah bangsawan dan mempunyai harga diri, maka bila kami masuk kepadamu, maka keluarkan orang-orang itu sebab mereka mengganggu kami dengan bau dan berilah kepada kami waktu sendiri duduk bersamamu." Maka Allah s.w.t. melarang Nabi Muhammad s.a.w. mengusir mereka dan diperintahkan supaya sabar berkumpul dengan orang-orang yang tidak meninggalkan sembahyang lima waktu kerana mengharap keridhoanNya. Allah s.w.t. berfirman (Yang berbunyi): "Walaa ta'du ainaka anhum turiidu ziinatal hayatidduniya, wakaana amruhu furutha." (Yang bermaksud): "Dan jangan engkau palingkan pandanganmu dari mereka kerana menginginkan kemewahan dunia, dan jangan menurut kepada orang yang telah Kami lalaikan hatinya dari peringatan (ajaran) Kami, dan hanya menurutkan hawa nafsunya, maka semua urusan halnya sia-sia belaka." (Surah Alkahf ayat 28)
Dan perintah kepada Nabi Muhammad s.a.w. ini berlaku kepada semua kaum muslimin sampai hari kiamat, kerana itu seharusnya tiap muslim harus suka dan baik kepada orang fakir miskin, serta berbudi kepada mereka kerana mereka orang-orang terkemuka disisi Allah s.w.t. dan dapat diharapkan syafaat mereka.
Alhasan berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Pada hari kiamat kelak akan dihadapkan seorang hamba, lalu Allah s.w.t. berkata lunak kepadanya sebagaimana seorang yang minta maaf kepada kawannya, maka Allah s.w.t. berfirman: "Demi kemuliaan dan kebesaranKu, Aku tidak menyingkirkan dunia daripadamu kerana hinamu dalam pandanganKu, tetapi kerana Aku telah menyediakan untukmu kemuliaan dan kurnia. Keluarlah hai hambaKu kebarisan-barisan itu dan lihatlah siapa yang dahulu pernah memberi makanan atau pakaiannya kepadamu dengan ikhlas keranaKu." Maka peganglah tangannya dan ia hakmu, maka berjalanlah ia ditengah-tengah manusia yang sedang tenggelam dalam peluhnya, lalu melihat orang yang dahulu pernah berbuat baik kepadanya lalu dipegang tangannya dan dimasukkan kesyurga."
Alhasan berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Perbanyaklah kenalan orang-orang fakir miskin dan berbudilah kepada mereka kerana mereka kelak akan mendapat kekuasaan." Sahabat bertanya: "Apakah kekuasaan mereka, ya Rasulullah?" Jawab Nabi Muhammad s.a.w.: "Bila tiba hari kiamat maka dikatakan kepada mereka: "Perhatikan siapa yang dahulu pernah memberimu makanan atau minuman seteguk atau pakaian sehelai baju, maka peganglah tangannya dan tuntunlah kesyurga."
Abul Laits berkata: "Ketahuilah bahawa bagi orang fakir miskin itu akan mendapat lima kemuliaan iaitu:
Pahala amalnya lebih dari pahala amal orang-orang yang kaya dalam sembahyang, sedekah dan lain-lainnya

Jika ingin sesuatu dan tidak tercapai dicatat baginya pahala

Mereka lebih dahulu masuk syurga

Hisab mereka diakhirat lebih ringan

Kemenyesalan mereka sangat kurang sebab orang-orang kaya ingin seperti orang fakirdiakhirat sedang orang fakir tidak ingin seperti orang yang kaya.

Dan semua keterangan ini ada keterangannya dari hadis-hadis.

Zaid bin Aslam berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Satu dirham untuk sedekah lebih afdal dari seratus ribu." Ditanya: "Bagaimana yang demikian, ya Rasulullah?" Jawab Nabi Muhammad s.a.w. "Seorang mengeluarkan dari kekayaannya yang sangat banyak seratus ribu dirham dan disedekahkan dan lain orang yang mengeluarkan satu dirham dari miliknya yang hanya dua dirham tiada ada yang lain dengan senang hati, maka orang yang mengeluarkan satu dirham lebih afdal dari yang seratus ribu dirham."

Alhasan r.a. berkata Nabi Muhammad s.a.w. ditanya oleh seorang sahabat: "Jika kami menginginkan sesuatu dan tidak dapat mencapainya, apakah kami mendapat pahala?" Jawab Nabi Muhammad s.a.w. "Dengan amalan yang manakah kamu akan mendapat pahala jika tidak mendapat dalam keadaan itu?"
Adhdhahhak berkata: "Siapa yang masuk pasar lalu melihat sesuatu yang diinginkannya lalu ia sabar dan mengharap pahala dari Allah s.w.t., maka yang demikian itu lebih baik baginya daripada sedekah seratus ribu dinar fisabilillah."
Abul Laits berkata: "Dalil atas kelebihan orang fakir itu ialah ayat (Yang berbunyi): "Wa aqimus shalata wa atuzzakata wa athi urrasula la allakum turhamun." (Yang bermaksud): "Tegakkan sembahyang dan keluarkan zakat dan taatlah kepada Rasulullah supaya kamu diberi rahmat."
Didalam ayat ini Allah s.w.t. meletakkan hak orang fakir langsung sesudah hak Allah s.w.t.. Dan juga orang fakir miskin sebagai doktornya orang kaya, sebab jika ia sakit disuruh sedekah kepada fakir miskin, juga sebagai penyucinya sebab bila sedekah kepada fakir miskin maka ia dibersihkan dari dosa-dosanya, juga membersihkan hertanya, juga sifakir itu sebagai pesuruhnyanya, sebab bila ia akan bersedekah untuk ayah bondanya yang telah meninggal, ia pergi kepada fakir miskin dan memberikan sedekah kepada mereka, juga menjaga kekayaannya, sebab harta yang dikeluarkan zakat dan sedekahnya terpelihara dari bencana."
Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Sukakah saya beritahu kepadamu tentang raja-raja disyurga?" Jawab mereka: "Ya, baiklah ya Rasulullah." Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Mereka orang-orang yang terhina dan teraniaya, yang tidak diterima untuk mengahwini wanita-wanita bangsawan dan hartawan dan tidak dibukakan bagi mereka pintu-pintu yang tertutup, mati seseorang dari mereka sedang hajatnya masih didalam dadanya belum tercapai tetapi sekiranya sungguh-sungguh minta kepada Tuhan pasti Allah s.w.t. akan memberi padanya."
Ibn Abbas r.a. berkata: "Mal'un (terkutuk) siapa yang menghormat kerana kekayaan dan menghina kerana kemiskinan."
Abud Dardaa' r.a. berkata: "Kami tidak adil terhadap saudara-saudara yang kaya sebab mereka makan, kami juga makan, dan minum, kami juga minum, dan mereka mempunyai kelebihan harta yang selalu mereka lihat-lihat dan kami juga melihat harta itu bersama mereka, tetapi mereka bakal dihisab (dituntut) dan kami bebas dari tuntutan."
Syaqiq Azzahid berkata: "Orang-orang miskin memilih tiga dan orang-orang kaya juga memilih tiga iaitu:
• Orang-orang miskin memilih :
kesenangan jiwa dan
ekosongan hati dan
ringannya hisab
• Sedang orang-orang kaya memilih:
Sibuknya hati
Penatnya fikiran
Beratnya hisab

Hatim Azzahid berkata: "Siapa yang mengakui empat tanpa empat, maka is dusta dalam pengakuannya iaitu:

Siapa yang mengaku cinta kepada Allah s.w.t. tanpa meninggalkan yang haram

Siapa yang mengaku cinta kepada syurga tanpa mengeluarkan harta untuk taat kepada Allah s.w.t., maka ia dusta

Siapa yang mengaku cinta kepada Rasulullah tanpa mengikuti sunnaturrasul maka ia dusta

Siapa yang menginginkan darjat yang tinggi tanpa bersahabat kepada orang-orang fakir miskin, maka ia dusta

Seorang cendikiawan berkata: "Empat macam siapa yang ada didalamnya maka ia haram dari kebaikan iaitu:

• Orang yang sombong kepada bawahnya

• Orang yang derhaka terhadap kedua orang tuanya

• Orang yang menghina orang-orang gharib (asing)

• Orang yang menghina orang-orang miskin kerana kemiskinannya

Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Allah s.w.t. tidak mewahyukan kepadaku supaya mengumpulkan harta dan menjadi pedagang tetapi Allah s.w.t. mewahyukan kepadaku supaya bertasbih dan tahmid kepada Tuhan dan selalu bersama-sama orang-orang yang sujud dan ibadatlah kepada Tuhanmu sehingga mati (mencapai keyakinan yang sesungguhnya.)."

Abul Laits berkata: "Abu Ja'far meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Said Alkhudri r.a. berkata: "Ya Allah, matikan aku sebagai orang fakir miskin dan jangan dimatikan aku kaya dan kumpulkan aku dimahsyar dalam rombongan orang-orang miskin pada hari kiamat, maka sesungguhnya yang amat celaka ialah orang yang miskin didunia dan tersiksa diakhirat."

Umar bin Alkhattab r.a. ketika disampaikan kepadanya hasil ghinamah (hasil perang) Qadissiyah, ia memeriksanya dan melihat-lihatnya lalu menangis. Abdurrahman Bin Auf berkata: "Mengapakah engkau menangis, ya amirul mukminin, padahal hari ini hari gembira dan senang?" Jawabnya: "Benar, tetapi suatu kaum yang diberi ini melainkan terjadi kebencian dan permusuhan diantara mereka."

Ibn Abbas r.a. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Tiap ummat ada fitnah (ujiannya) sendiri-sendiri, dan ujian ummatku adalah harta kekayaan."

Abdullah bin Umar r.a. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya makhluk yang sangat dikasikhi oleh Allah s.w.t. ialah orang yang fakir miskin sebab manusia yang amat dikasihi oleh Allah s.w.t. ialah para Nabi, maka Allah s.w.t. menguji mereka dengan kefakiran kemiskinan."

Abul Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Alhasan Albashri berkata: "Allah s.w.t. telah mewahyukan kepada Nabi Musa bin Imran a.s: Ada seorang kekasihKu dari seorang hambaKu dibumi akan mati, maka pergilah engkau kepadanya dan mandikan serta kafankan dan kuburkan." Maka dicari oleh Nabi Musa a.s. dikota tidak bertemu dan didusun juga tidak bertemu, lalu ia melihat tukang-tukang menggali tanah, maka ia bertanya: "Apakah kamu ada melihat orang sakit atau mati?" Jawab mereka: "Disini ditempat yang rosak ini ada seorang sakit mungkin itu yang engkau maksudkan." Jawab Nabi Musa a.s.: "Ya benar." Maka ia pergi kesana. tiba-tiba ada seorang yang sedang sakit menggeletek diatas tanah berbantal batu merah, dan ketika ia sedang menghadapi sakaratulmaut jatuh kepalanya dari batu merah itu. Maka berdiri Nabi Musa a.s. sambil menangis dan berkata: "Ya Robbi, inilah kekasihMu, dari hambaMu menderita sakit dan tidak ada seorangpun yang merawatnya." Maka Allah s.w.t. menurunkan wahyu: "Hai Musa, Aku jika kasih kepada seorang hambaKu, Aku singkirkan dunia daripadanya."

Abbas Bin Katsir dari Alhasan berkata: "iblis laknatullah mengambil pertama wang emas (dinar) yang dibuat diatas bumi lalu diletakkan antara ketua matanya sambil berkata: "Siapakah yang cinta kepadamu, maka ia hambaku."

Abul Laits dari Idris dari Wahb bin Munabbih berkata: "iblis laknatullah datang kepada Nabi Sulaiman dan Daud a.s. berupa orang tua lalu ditanya oleh Nabi Sulaiman: "Beritakan kepadaku apa yang akan engkau perbuat terhadap ummat Nabi Isa bin Maryam a.s?" Jawab iblis laknatullah: "Saya akan menganjurkan kepada mereka supaya menggunakan dua Tuhan selain Allah s.w.t." Lalu apakah yang akan engkau perbuat terhadap ummat Nabi Muhammad s.a.w.?" Jawab iblis laknatullah: "Saya akan iming-imingkan kepada mereka kepada dinar dan dirham (mas dan perak) sehingga itu lebih mereka inginkan daripada Laa ilaha ilallah." Nabi Sulaiman a.s. berkata(Yang berbunyi): "A udzu billahi minka." (Yang bermaksud): "Saya berlindung kepada Allah s.w.t. daripadamu." Tiba-tiba ia sudah tidak ada.

Abul Laits berkata: "Kewajipan seorang fakir ia harus mengerti terhadap kurniaan Allah s.w.t. kepadanya, bahawa Allah s.w.t. menghindarkan dunia daripadanya kerana mulianya disisi Allah s.w.t., yang mana Allah s.w.t. telah memuliakannya sebagaimana memuliakan para Nabi-nabiNya dan para Wali, dan mengucap Alhamdulillah dan tidak baginya dari dunia dan andaikan kefakiran tidak mempunyai kelebihan selain sekadar mengikuti kehidupan Nabi Muhammad s.a.w. nescaya itu saja cukup besar."

Abul Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Thawwus dari Ibn Abbas r.a. berkata: "Ketika Nabi Muhammad s.a.w. duduk bersama Jibril a.s., tiba-tiba Jibril berkata: "Ini ada Malaikat yang turun dari langit yang belum pernah turun, dan ia minta izin kepada Tuhan untuk berziarah kepadamu." Maka tidak lama datanglah malaikat itu dan memberi salam: "Assalamu alaikum, ya Rasulullah s.a.w" Jawab Nabi Muhammad s.a.w. "Wa alaikum salam." Lalu malaikat itu berkata: "Allah s.w.t. telah menyuruh engkau memilih antara diberi kunci dari segala sesautu dan diberi kekayaan yang belum pernah diberikan kepada seorang sebelummu dan tidak akan diberikan kepada seorang sesudahmu, tanpa mengurangi apa yang telah disediakan bagimu diakhirat atau dikumpulkan bagimu semua diakhirat (dihari kiamat)." Jawab Nabi Muhammad s.a.w. "Supaya dikumpulkan semua itu bagiku dihari kiamat sahaja."

Shafwan bin Saliem dari Abdul Wahhab bin Bajid berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Telah ditawarkan kepadaku dataran Mekkah ini berupa emas perak, maka saya berkata: "Ya Tuhan, lebih baik saya kenyang sehari dan lapar sehari, maka memujiMu jika kenyang dan minta kepadaMu jika lapar."
{[['']]}

KENALILAH DIRI PRIBADIMU

Konsep pengenalan diri dalam agama manapun sebenarnya menjadi sala satu hal mendasar yang harus di pahami dan dijadikan sebagai penghayatan agung… demikian pula dalam ajaran Islam, sebagaimana dinyatakan oleh waliyullah Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali,
“Mengenal diri adalah kunci untuk mengenal Tuhan, sesuai ungkapan hadis, ‘Siapa yang mengenal dirinya, ia mengenal Rabb-nya,’ dan sebagaimana difirmankan Allah Ta’ala,
“Akan Kami perlihatkan ayat-ayat Kami di ufuk ini dan di dalam jiwa-jiwa mereka, hingga jelas bagi mereka bahwa itu adalah al-Haq…” QS Fushilat [41] : 53
Ketahuilah, tak ada yang lebih dekat kepadamu kecuali dirimu sendiri. Jika kau tidak mengetahui dirimu sendiri, bagaimana bisa mengetahui yang lain. Pengetahuanmu tentang dirimu sendiri dari sisi lahiriyah, seperti bentuk muka, badan, anggota tubuh, dan lainnya sama sekali tidak akan mengantarmu untuk mengenal Allah. Sama halnya, pengetahuanmu mengenai karakter fisikal dirimu, seperti bahwa kalau lapar kau makan, kalau sedih kau menangis, dan kalau marah kau menyerang, bukalah kunci menuju pengetahuanmu tentang Allah. Bagaimana bisa kau mencapai kemajuan dalam perjalanan ini jika kau mengandalkan insting hewani serupa itu? Sesungguhnya pengetahuan yang benar tentang diri meliputi beberapa hal berikut:
Siapa aku dan darimana aku datang? Kemana aku akan pergi, apa tujuan kedatangan dan persinggahanku di dunia ini, dan di manakah kebahagiaan sejati dapat ditemukan?
Ketahuilah, ada tiga sifat yang bersemayam di dalam dirimu: hewan, setan dan malaikat. Harus kau temukan, mana di antara ketiganya yang aksidental dan mana yang essensial. Tanpa menyingkap rahasia itu, kau tak akan temukan kebahagiaan sejati.
Pekerjaan hewan hanyalah makan, tidur dan berkelahi. Karena itu, jika engkau hewan, sibukkanlah dirimu dalam aktivitas itu. Setan selalu sibuk mengobarkan kejahatan, tipu daya dan dusta. Jika kau termasuk golongan setan, lakukanlah yang biasa ia kerjakan. Sementara malaikat selalu merenungkan keindahan Tuhan dan sepenuhnya bebas dari sifat hewani, Jika kau punya sifat malaikat, berjuanglah menemukan sifat-sifat asalmu agar kau mengenali dan merenungi Dia Yang Mahatinggi, serta terbebas dari perbudakan syahwat dan amarah.”
Mengenal diri sebagaimana diuraikan tadi oleh Imaam Al-Ghazali merupakan hal mendasar yang harus dipahami oleh setiap manusia… Semakin seseorang mengenal dirinya, akan semakin paham pula sejauh mana kekurangan yang dia harus tafakkuri, dan kelebihan yang patut disyukuri… Dan ketika diri ini menemukan sekian banyak kekurangan, tentu akan semakin sadar dan mawas diri, hingga akhirnya akan tersadarkan pula hikmah dibalik kebutuhan sang lelaki menemukan pasangannya dan sebaliknya, tiada lain demi menemukan penyempurnaan dirinya…
Berikut ini uraian ilmiah bagian dari struktur manusia, sebagaimana diuraikan oleh Saudara Muhammad Sigit Pramudya yang mengambil intisari dari apa yang telah Imam Al-Ghazali dari berbagai sumber:
“Struktur Insan, oleh Imam Al-Ghazali ra dibagi dalam tiga aspek: Jiwa (an-nafs), Ruh dan Jasmani (jism)/jasad.
Jasmani atau jasad manusia terbentuk dari berbagai komponen dan unsur yang sanggup ‘membawa’ dan mempertahankan ruh dan nafsnya, yang kemudian menjadi suatu tubuh berpostur yang memiliki wajah, dua tangan dan kaki, serta bisa tertawa. Unsur-unsur jasmani tersebut adalah unsur yang sama dengan unsur makrokosmos yaitu air, udara, api dan tanah. Hal ini terlihat dari proses penciptaan jasmani Nabi Adam as yang dilukiskan melalui tahapan ath-thiin dan shalshal dimana kedua jenis tanah liat tersebut merupakan hasil dari perubahan empat unsur tanah, air, udara dan api. Bagi anak-cucu Nabi Adam a.s., proses tersebut tidak transparan lagi karena jasmani bani adam terbentuk dalam rahim ibu melalui fase-fase nuthfah, ‘alaqah dan mudhghah. Meski begitu secara hakiki jasmani bani adam tetap berasal dari 4 unsur tersebut dan akan kembali ke bentuk unsur dasar itu.
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan insan dari suatu saripati (berasal) dari tanah (thiin). Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami ciptakan jadi segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami ciptakan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami ciptakan menjadi tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk (berbentuk) lain. Maha Memberkahi Allah, Sebaik-baiknya Maha Pencipta.” (Al-Mu’minun [23]: 12-14)
“Dan (ingatlah), ketika Rabbmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku menciptakan seorang basyar dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam (shalshal) yang diberi bentuk.” (Al-Hijr [15]: 28)
Jika diperhatikan lebih jauh mekanisme kehidupan yang melibatkan bagian-bagian tubuh, maka akan ditemui persamaan dengan mekanisme serupa yang melibatkan bagian-bagian alam (makrokosmos). Hanya saja untuk memetakan persamaan ini dengan lengkap dan rinci, andai pun kita diberi usia yang cukup panjang sampai berabad-abad, tidak akan tuntas untuk menguraikannya. Oleh karenanya kita diminta untuk berusaha mencoba sendiri meneliti apa yang kita saksikan, tentu maka akan menemukan persamaan makrokosmos dengan mikrokosmos diri kita.
Kemudian adanya ruh membuat manusia mirip dengan hewan karena ruh yang dimaksud di sini adalah ruh yang juga dimiliki oleh hewan, yaitu ruh hewani. Dalam Al-Qur’an dikenal dengan istilah nafakh ruh. Ruh hewani ini adalah sesuatu yang bertempat, sehingga eksistensinya bisa dideteksi oleh ilmu kedokteran. Ia berjalan (mengalir) di seluruh anggota tubuh, pembuluh darah , urat nadi dan syaraf. Kehadirannya di suatu anggota tubuh, membuat bagian tubuh tersebut menjadi hidup. Apakah itu berwujud gerakan, sentuhan, menatap, mendengar, dan sebagainya. Ibaratnya seperti pelita yang beredar menelusuri suatu tempat yang penuh dengan lorong-lorong; tempat tersebut adalah ibarat tubuh. Bagian-bagian tubuh yang diibaratkan dengan lorong-lorong akan hidup ketika cahaya pelita menerangi lorong tersebut. Cahaya pelita itulah ibarat dari ruh hewani yang mengalir dan beredar di seluruh tubuh. Ruh tersebut tidak memberi petunjuk pada pengetahuan. Ia tak lebih daripada perangkat unik yang bisa mematikan badan, dimana misi Rasulullah Saw bukan ditujukan pada ruh tersebut. Ruh inipun bukanlah Ruh Amr yang dimaksud di Al-Israa’ [17]: 85
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang Ar-Ruh. Katakanlah: Ar-Ruh itu berasal dari Amr Rabbku, dan tidaklah engkau diberi pengetahuan tentang itu melainkan sedikit.”
Sehingga bisa dikatakan bahwa Imam Al-Ghazali meluruskan pemahaman sebagian umat Islam yang menyamakan makna Ar-Ruh dengan Nafakh Ruh (ruh hewani).
Kemudian manusia juga memiliki jiwa (an-nafs) yang merupakan jauhar, yaitu yang berdiri sendiri, tidak berada di tempat manapun dan juga tidak bertempat pada apapun. Jiwa adalah alam sederhana yang tidak terformulasi dari berbagai unsur (materi) sehingga tidak mengalami kehancuran sebagaimana benda materi. Karena itu, kematian bagi manusia sesungguhnya hanyalah
kematian tubuh dimana yang hancur dan terurai kembali ke asalnya adalah tubuh, sedangkan jiwa tidak akan hilang dan tetap eksis, sebagaimana firman-Nya,
“Janganlah engkau mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup di sisi Rabb mereka, dan mendapatkan rizkinya…” (QS Ali Imran [3]: 169)
Demikian berharga pengenalan kita akan aspek yang melingkupi diri kita ini beserta segala fungsinya. Tatkala seseorang dapat mengenali dirinya, pada dasarnya ia pun akan secara sadar mulai memahami apa yang menjadi tujuan utama dia ditakdirkan oleh Allah Sang Pencipta untuk hadir di muka bumi ini…
Dan pada saat seseorang memahami tujuan hidupnya, maka dia pun akan mulai menghargai peran masing-masing aspek dalam dirinya itu…mana yang seharusnya menjadi pemimpin, dan mana yang harus dipimpin. Bagian mana yang bisa difungsikan untuk mengenal aspek dunia dan indera mana pula yang sebenarnya bisa menangkap hikmah kehidupan serta banyak hal berharga lainnya.
Lantas apa hubungannya pengenalan diri dengan pengenalan pasangan di luar diri kita? Mengenal diri pada dasarnya mengenal pula adanya sebuah hubungan keterpasangan beserta fungsinya masing-masing. Baik ketika ruh berpasangan dengan jiwa, ataupun ketika jiwa berpasangan dengan jasad/jisim. Namun berhubung urusan ruh agak sulit untuk kita bincangkan, maka mari kita mencoba merenungi bagaimana interaksi pasangan yang ada dalam diri ini berupa jiwa dan jasad, layaknya pasangan yang batin dengan yang lahir.
Pasangan jiwa dan jasad laksana pasangan laki-laki dan perempuan pula. Dimana dalam mekanisme ini akan kita pahami siapa yang selayaknya menjadi pemimpin dan siapa yang dipimpin. Jika Alquran menyebutkan bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan, maka dalam diri kita pun terdapat aspek laki-laki yaitu jiwa yang harus menjadi pemimpin bagi perempuan yaitu aspek jasad.
Jiwa apabila telah suci dan mampu berbuat sesuatu, ia senantiasa terhubung dengan ruh Allah, yang juga terhubung kepada Allah Ta’ala secara langsung. Sedangkan jasad karena terbuat dari alam materi bumi, maka ia senantisa terhubung dan dipengaruhi langsung oleh unsur-unsur bumi. Jiwa memiliki qalb atau hati nurani yang senantiasa dapat membaca kebenaran Ilahi, dapat membaca apa yang paling Allah kehendaki, dan yang Dia ridlai, sedangkan jasad dengan keliaran pikirannya senantiasa sulit memahami sebuah kebenaran hakiki.
Ketika pikiran bekerja, karena berada dalam ruang otak di jasadnya, maka ia pun tidak bisa melepas dari faktor ruang dan waktu, sehingga sangat logis kalau pertimbangan pikiran senantiasa selalu dipengaruhi oleh peran jasad kebumiannya. Nyaman tidaknya, bahagia atau tidaknya selalu diukur oleh kenyamanan dan kebahagian bagi aspek jasadnya saja, dan sangat bisa jadi tidak berhubungan dengan nilai kebenaran dan nilai luhur ajaran agama dalam menilai apa yang Haq dalam pandangannya… hingga akhirnya akan kita kenali pula sekian juta pemikiran yang berbeda berdasarkan jutaan cara pandang, latar belakang kehidupan, tingkat kecerdasan, serta faktor lahiriyah lainnya.
Namun ketika jiwa yang merupakan elemen cahaya yang memiliki derajat sama dengan aspek cahaya malaikat, maka dia akan berpikir dengan apa yang dipikirkan oleh para malaikat ini. Jiwa yang suci, yang tercahayai oleh iman, akan senantiasa terhubung komunikasinya dengan Allah Ta’ala, akan senantiasa cenderung ingin mengabdi dan mengabdi sepanjang hidupnya di dalam kehendak Allah Ta’ala, karena hakekatnya dia telah mengenal Allah. Mengenali betul siapa yang berhak menjadi Tuhan Seru Sekalian Alam yang mengatur setiap kehidupan di dunia dan akhirat ini.
Sebenarnya, konsep pengenalan diri ini sudah dikenal pula di dunia lain terutama dunia barat dan Yunani kuno, sebagaimana diuraikan berikut ini oleh saudara Alfathri Adlin, yang telah termuat di dalam sebuah artikel yang dimuat harian Kompas, 17 November 2007:
“Kearifan kuno ihwal kaitan antara pengetahuan dan pengenalan diri tersebut kini sudah benar-benar terlupakan. Pengetahuan lebih sering dikembangkan bukan untuk mengenal diri manusia sendiri, melainkan untuk mengetahui, atau bahkan mengeksploitasi, segala hal selain diri manusia.
Dalam sebuah film yang ditayangkan oleh satu stasiun televisi swasta diceritakan kisah seorang Ibrahim Al-Haqq dari Turki. Ibrahim mengalami peristiwa yang agak ganjil, yakni melihat seseorang di kejauhan yang selalu berteriak-teriak: “… Di mana engkau…? di mana engkau…?”
Begitu sering orang di kejauhan itu terlihat. Bahkan, semakin hari sosok tersebut semakin terlihat dekat, atau terlihat di sela-sela kerumunan orang. Ibrahim semakin penasaran, hingga ia bertanya kepada sahabatnya: “Siapakah orang gila yang setiap hari selalu berteriak-teriak mencari seseorang itu?”
Akan tetapi, sang sahabat malah balik bertanya: “Orang gila yang mana? Aku tidak melihatnya.” Bagi Ibrahim tetap saja sosok tersebut terlihat, semakin dekat, semakin dekat hingga akhirnya dia pun berhadapan langsung dengan sosok tersebut. Betapa terkejutnya Ibrahim melihat sosok tersebut, yang ternyata adalah dirinya sendiri. Ia memberi banyak wejangan kepada Ibrahim, antara lain sebuah ungkapan, “Fungsi pengetahuan adalah untuk mengenal diri”.
Cerita di atas mengingatkan kita pada sebuah tulisan di pintu masuk kuil di Delphi, Yunani, Gnothi Se Authon (Kenalilah Dirimu Sendiri). Ucapan (kata mutiara) Apollo itu digunakan Socrates untuk mengajari warga Athena mengenali siapa diri mereka yang sejati. Bahwa kehidupan yang tidak ditafakuri ialah kehidupan yang tidak layak dijalani.
Manusia, menurut Socrates, mempunyai “diri yang nyata” yang harus ditemukan dan dikenali oleh dirinya sendiri. Kebahagiaan yang nyata terdapat dalam pengenalan akan diri yang nyata tersebut. Dengan mengenal siapa dirinya, manusia akan mengetahui bagaimana sebaiknya berbuat.
Maka, Socrates pun mengimbau kaum muda untuk bertafakur agar dapat mengenal diri mereka sendiri. Walaupun pengetahuan dapat dipelajari melalui debat dan diskusi, Socrates tetap menekankan bahwa pengetahuan yang nyata mengenai esensi harus dicapai dengan pengenalan diri sendiri.
Demikian tokoh Yunani bernama Socrates memahami konsep pengenalan diri, sebagaimana juga sebenarnya umat Islam pun telah mengenal konsep pengenalan diri itu dengan istilah Alquran suci… membaca kitab diri…
Mari kita tafakkuri ayat agung QS Al-Isra [17]:14 Allah Swt berfirman,
“Bacalah kitabmu, cukuplah bagi jiwamu pada hari ini sebagai penghisab atasmu…”
Membaca kitab diri, membaca siapa diri, membaca ukuran diri, membaca dan mengenali segala potensi diri, diri sebagai jiwa, jiwa yang telah Allah tetapkan di alam azali nya dengan segala ketetapan yang terjaga di lauh mahfudz,.
Membaca diri juga memiliki makna lain adalah membaca tugas diri, tugas sang jiwa yang diamanahi oleh Allah agar dapat menuntun jasadnya. Itulah makna lain bahwa laki-laki sebagai pemimpin bagi perempuan, maka bisa kita maknai, walaupun secara biologis seseorang di katakana perempuan, namun dalam makna lebih luas tadi, ada dalam dirinya –yang bergender perempuan tersebut- sisi kelaki-lakiannya yaitu aspek jiwa nya yang harus berperan sebagai pemimbin bagi aspek perempuan dirinya berupa jasadnya…
Sang Jiwa, atau nafs, sebagai figur laki-laki tentu Allah berikan kemampuan memimpin bagi jasadnya. Di dalam jiwa terdapat inti berupa qalb, yang juga berperan sebagai tempat persinggahan cahaya iman. Dan lewat inti dari sisi kemanusiaannya inilah Allah memberikan petunjuk-petunjuk-Nya. Karena itu, tatkala sang jiwa berhasil dituntun oleh Allah untuk dapat melakukan perbuatan-perbuatan sesuai kehendak-Nya, maka sang hamba ini pun akan memiliki kemampuan pula untuk dapat menuntun jasadnya menggerakan apa yang menjadi keinginan jiwanya…
Jika tidak, maka yang menggerakan adalah murni dari sisi pikirannya, yang berada dalam tataran jasadnya, yang karena ia tersusun dari elemen bumi, maka fitrahnya adalah sangat dipengaruhi oleh dominasi aspek bumi itu sendiri, aspek ruang dan waktu, aspek lahiriyah belaka dan perhitungan untung rugi nya pun berdasarkan apa yan menguntungkan bagi aspek lahiriyahnya belaka pula… Hingga akhirnya akan kita temukan seseorang yang dengan ringannya melakukan keburukan demi keburukan hanya karena hal itu menjadi sebuah perintah logika pikiran jasadiyahnya, sehingga pertimbangan baik dan buruknya pun akan selalu didasarkan atas baik dan buruk menurut pikiran..
Kembali kita kaitkan dengan urusan pasangan di luar diri kita…sebagaimana sang laki-laki harus menjadi pemimpin bagi perempuannya, sehingga dalam aturan syariat agama pun sang laki-laki yang akan dimintai pertanggungjawaban atas tindakannya dalam menuntun pasangannya…
Sang laki-laki yang berkewajiban berbuat adil terhadap perempuannya, terhadap pasangannya dalam artian berkewajiban menuntun sang istri menemukan jati dirinya…. Itu wajib dilakukan sebagaimana seharusnya sang jiwa dalam diri masing-masing harus dapat menuntun jasadnya…
Demikianlah uraian tentang keterhubungan antara perjuangan besar kita dalam menemukan pasangan dalam diri dengan cara memperbanyak istighfar meluruskan jalan taubat, hingga kesucian diri diperoleh, maka kelak kita perlu membangun sebuah keyakinan bahwa pada saatnya yang tepat dalam kacamata Allah, nicaya akan Dia Ta’ala hadirkan pasangan yang tepat yang menjadi bagian dari diri kita…
Kiranya jalan pensucian ini menjadi landasan inti kehidupan, landasan inti dasar ajaran agama yang Allah tuntun dalam sejarah peradaban manusia di mana pun juga..sebagaimana Adam a.s. kembali Allah angkat tatkala beliau bertaubat dengan sebesar-besarnya taubat…

Wassalam..
Diposkan oleh Majelis Dzikir PASEBAN TOMBO ATI di 04.04
{[['']]}

Sepuluh Sebab Penghapus Dosa


Nash-nash al-Qur`an dan Sunnah telah menunjukkan bahwa hukuman dosa (siksa) dapat dihapuskan dari seorang hamba dengan sepuluh sebab berikut ini:

1. Taubat Nasuha.
Yaitu taubat yang sebenar-benarnya taubat, maka ia (taubat nasuha) dapat meleburkan dosa sebelumnya. Dan Allah Subhanahu Wata'ala Maha menerima taubat hamba-hambaNya yang mau bertaubat kepadaNya.
Dan orang yang bertaubat dari segala dosa bagaikan orang yang tidak memiliki dosa. Allah Subhanahu Wata'ala berfirman, artinya, “Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hambaNya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. asy-Syura: 25).
Allah Subhanahu Wata'ala juga berfirman, artinya, “Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian bertaubat sesudah itu dan beriman; sesungguhnya Tuhan kamu, sesudah taubat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-A’raf: 153).

2. Beristighfar.
Yaitu memohon ampunan kepada Allah Subhanahu Wata'ala. Sesungguhnya Allah akan mengampuni hamba-hambaNya yang meminta ampunan (beristighfar) kepadaNya. Allah Subhanahu Wata'ala berfirman, artinya, “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. an-Nisa`: 110).
Allah Subhanahu Wata'ala juga berfirman, artinya, “Dan Tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (QS. al-Anfal: 33).
Begitu juga Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda tentang apa yang beliau riwayatkan dari Rabbnya, artinya, “Wahai anak cucu Adam (manusia) seandainya dosa-dosamu setinggi awan di langit, lalu kamu meminta ampun kepadaKu, niscaya Aku akan mengampuni dosa-dosamu.” (HR. at-Tirmidzi, dan dia berkata, “Hadits hasan shahih.”
Allah Subhanahu Wata'ala juga berfirman dalam hadits qudsi, artinya, “Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya kalian melakukan kesalahan (dosa) di waktu malam dan siang hari, sedangkan Aku lah yang dapat mengampuni semua dosa, maka mohon ampunlah kalian kepadaKu niscaya Aku akan mengampuni dosa kalian.” (HR. Muslim).

3. Kebaikan-kebaikan menghapuskan dosa-dosa.
Seperti shalat, shadaqah, puasa, haji, membaca al-Qur`an, berdzikir kepada Allah, berdo’a, beristighfar, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung silatur rahim, dan lain-lain. Allah Subhanahu Wata'ala berfirman, artinya, “Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS. Huud: 114).
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Shalat-shalat yang lima waktu, jum’at ke jum’at, ramadhan ke ramadhan dapat meleburkan dosa diantara keduanya apabila dosa-dosa besar dijauhkan.” (HR. Muslim).
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga bersabda, “Dan ikutilah perbuatan buruk/ kejahatan dengan perbuatan yang baik, niscaya dia menghapuskannya.” (HR. at-Tirmidzi dan dia menghasankannya).
Sesungguhnya satu kebaikan dilipat gandakan balasannya sampai sepuluh kali lipat, adapun keburukan akan dibalas yang serupa dengannya. Maka celakalah bagi orang yang berguguran (kalah) satu persatu dari sepuluh sebab tersebut.

4. Doa orang-orang yang beriman.
Maksudnya mereka memohon ampunan (kepada Allah, pen.) untuk orang yang beriman (lainnya) baik ketika hidup maupun setelah mati dan khususnya pada saat ketidak beradaannya (tanpa sepengetahuan orang yang didoakan, pen.) dan begitu juga doanya atas saudara-saudaranya yang telah meninggal dunia. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang tidak hadir (tanpa sepengetahuannya, pen.) adalah mustajab, di samping kepalanya terdapat malaikat, setiap dia berdoa untuk saudaranya dengan kebaikan, malaikat yang diutus berkata, ‘Amin, dan bagimu sepertinya (seperti orang yang didoakan, pen.).” (HR. Muslim).

5. Perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan/ diniatkan untuk si mayyit .
Seperti shadaqah; puasa; haji; membebaskan budak; dan yang lainnya. Para ulama berpendapat, “Amal shalih apa pun (yang dapat mendekatkan diri kepada Allah) yang dia kerjakan dan dia peruntukkan pahalanya untuk seorang muslim baik yang masih hidup ataupun yang telah meninggal, maka hal itu bermanfaat baginya.” Dan yang lebih utama adalah mencukupkan dalam hal tersebut pada apa yang dijelaskan/ ditetapkan oleh nash-nash (al-Qur`an dan Sunnah).

6. Syafa’at Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan selainnya.
Maksudnya adalah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan selain beliau akan memberikan syafa’at kepada orang-orang yang berbuat dosa pada hari Kiamat dengan izin Allah Subhanahu Wata'ala sebagaimana hal tersebut ditetapkan di dalam hadits-hadits shahih.

7. Musibah-musibah.
Dengannya lah Allah Subhanahu Wata'ala menghapuskan dosa-dosa atau kesalahan-kesalahan (yang dilakukan oleh hamba-hambaNya, pent.) di dunia sebagaimana yang telah dijelaskan dalam ash-Shahihain, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam;bersabda, “Tidaklah orang yang beriman ditimpa penyakit yang terus menerus dan tidak pula rasa cemas, rasa sedih, rasa susah dan rasa sakit, sampai-sampai duri yang menusuk kecuali Allah menghapuskan dengannya dari dosa-dosa/ kesalahan-kesalahannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

8. Apa yang didapatkan oleh seorang hamba ketika di dalam kubur.
Yakni berupa fitnah, himpitan liang kubur, kengerian, maka ini semua di antara yang dapat menghapuskan dosa-dosa.

9. Rasa takut, kesusahan serta kengerian terhadap kedahsyatan hari kiamat.

10. Rahmat Allah Subhanahu Wata'ala
Sesungguhnya karena rahmat Allah Subhanahu Wata'ala, semua hamba mendapatkan maaf dan ampunanNya tanpa sebab, maka Dia lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, sebagaimana Dia berfirman, artinya, “Dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu.” (QS. an-Nisa`: 48 dan 116).
Dan Dia lah yang Maha Penyayang kepada hamba-hambaNya melebihi sayangnya seorang ibu kepada anak-anaknya dan sungguh rahmat Allah Subhanahu Wata'ala meliputi segala sesuatu.(Abu Nabiel).

Sumber: Diterjemahkan dari kitab, “An-Nuqath al-’Asyru adz-Dzahabiyah”, karya: Syaikh Abdur Rahman bin Ali ad-Dausary.Diposting oleh : Abdurrahman Al-Maluky
{[['']]}

NAMA-NAMA BAGINDA RASULLULLAH S.A.W.

  1. Ahmad s.a.w
  2. Hamid s.a.w.
  3. Mahmud s.a.w.
  4. Ahid s.a.w.
  5. Wahid s.a.w.
  6. Mahh s.a.w
  7. Hasyir s.a.w
  8. 'Aaqib s.a.w.
  9. Taha s.a.w.
  10. Yaasin s.a.w.
  11. Tahir s.a.w.
  12. Mutahhar s.a.w
  13. Taiyyib s.a.w.
  14. Sayyid s.a.w.
  15. Rasul s.a.w.
  16. Nabi Muhammad s.a.w
  17. Rasulul Rahmah s.a.w.
  18. Qaiyyim s.a.w.
  19. Jami' s.a.w.
  20. Muqtaff s.a.w
  21. Muqaffa s.a.w.
  22. Rasulul Malaahim s.a.w.
  23. Rasulur Rahah s.a.w.
  24. Kamil s.a.w.
  25. Iklil s.a.w.
  26. Muddath-thir s.a.w.
  27. Muzzammil s.a.w.
  28. Abdullah s.a.w.
  29. Habibullah s.a.w.
  30. Safiyyullah s.a.w.
  31. Najiyyullah s.a.w.
  32. Kalimullah s.a.w.
  33. Khatamul Anbia' s.a.w.
  34. Khatamul Rusul s.a.w
  35. Muhyi s.a.w.
  36. Munji s.a.w.
  37. Muzakkir s.a.w.
  38. Nasir s.a.w.
  39. Mansur s.a.w
  40. Nabiyyul Rahmah s.a.w.
  41. Nabiyut Taubah s.a.w.
  42. Harison 'Alaikum s.a.w.
  43. Ma'lum s.a.w.
  44. Shahir s.a.w.
  45. Shaahid s.a.w.
  46. Shahiid s.a.w.
  47. Mashhud s.a.w.
  48. Bashir s.a.w.
  49. Mubashhir s.a.w
  50. Nazir s.a.w.
  51. Munzir s.a.w.
  52. Nur s.a.w.
  53. Siraj s.a.w.
  54. Misbah s.a.w.
  55. Hudaa s.a.w.
  56. Mahdi s.a.w
  57. Munir s.a.w.
  58. Da'i s.a.w.
  59. Mad'uu s.a.w.
  60. Mujib s.a.w.
  61. Mujab s.a.w.
  62. Hafiyy s.a.w.
  63. 'Affuw s.a.w.
  64. Waliyy s.a.w.
  65. Haqq s.a.w.
  66. Qawiyy s.a.w
  67. Amin s.a.w.
  68. Ma'mun s.a.w.
  69. Karim s.a.w.
  70. Mukarram s.a.w
  71. Makin s.a.w.
  72. Matin s.a.w.
  73. Mubin s.a.w.
  74. Muammil s.a.w.
  75. Wasul s.a.w.
  76. Zu Quwwah s.a.w.
  77. Zu Hurmah s.a.w.
  78. Zu Makaanah s.a.w.
  79. Zu 'Iz s.a.w.
  80. Zu Fadli s.a.w.
  81. Mutaa' s.a.w.
  82. Mutii' s.a.w.
  83. Qadamu Sidqi s.a.w.
  84. Rahmah s.a.w.
  85. Bushra s.a.w
  86. Ghauth s.a.w.
  87. Ghaith s.a.w.
  88. Ghayyath s.a.w.
  89. Ni'matullah s.a.w.
  90. Hadiyyatullah s.a.w.
  91. Urwatun Wuthqa s.a.w.
  92. Siraatullah s.a.w.
  93. Siraatul Mustaqim s.a.w.
  94. Zikrullah s.a.w.
  95. Saifullah s.a.w.
  96. Hizbullah s.a.w.
  97. An-Najmuth Thaqib s.a.w
  98. Mustaffa s.a.w.
  99. Mujtaba s.a.w.
  100. Muntaqa s.a.w.
  101. Ummiyy s.a.w.
  102. Mukhtar s.a.w.
  103. Ajir s.a.w.
  104. Jabbar s.a.w
  105. Abul Qasim s.a.w.
  106. Abut Tahir s.a.w.
  107. Abut Taiyyib s.a.w.
  108. Abu Ibrahim s.a.w.
  109. Mushaffa' s.a.w.
  110. Shafi' s.a.w.
  111. Saleh s.a.w.
  112. Musleh s.a.w.
  113. Muhaimin s.a.w.
  114. Sadiq s.a.w
  115. Musaddiq s.a.w.
  116. Sidq s.a.w.
  117. Sayyidul Mursalin s.a.w.
  118. Imamul Muttaqin s.a.w.
  119. Qaidul Ghurril Muhajjalin s.a.w
  120. Khalilul Rahman s.a.w.
  121. Barr s.a.w.
  122. Mabarr s.a.w.
  123. Wajih s.a.w.
  124. Nasih s.a.w.
  125. Naasih s.a.w.
  126. Wakil s.a.w
  127. Mutawwakkil s.a.w
  128. Kafil s.a.w.
  129. Shafiq s.a.w.
  130. Muqimus Sunnah s.a.w.
  131. Muqaddas s.a.w.
  132. Ruhul Qudus s.a.w.
  133. Ruhul Haq s.a.w.
  134. Ruhul Qistt s.a.w.
  135. Kaaf s.a.w.
  136. Muktaff s.a.w.
  137. Baaligh s.a.w.
  138. Muballigh s.a.w.
  139. Shaff s.a.w.
  140. Wasil s.a.w.
  141. Mausul s.a.w.
  142. Sabiq s.a.w.
  143. Saaiq s.a.w.
  144. Had s.a.w.
  145. Muhdi s.a.w.
  146. Muqaddam s.a.w.
  147. Aziz s.a.w.
  148. Fadhil s.a.w.
  149. Mufaddhal s.a.w.
  150. Fatih s.a.w.
  151. Miftah s.a.w.
  152. Miftahul Rahmah s.a.w.
  153. Miftahul Jannah s.a.w.
  154. 'Alamul Imaan s.a.w.
  155. 'Alamul Yaqin s.a.w.
  156. Dalilul Khairat s.a.w.
  157. Musahhihul Hasanaat s.a.w.
  158. Muqilul 'Atharaat s.a.w.
  159. Saffuh Aniz Zallat s.a.w.
  160. Sahibush Shafa'ah s.a.w.
  161. Sahibul Maqam s.a.w.
  162. Sahibul Qadim s.a.w.
  163. Makhsus Bil 'Iz s.a.w.
  164. Makhsus Bil Majd s.a.w.
  165. Makhsus Bis Sharaf s.a.w.
  166. Sahibul Wasilah s.a.w.
  167. Sahibus Saif s.a.w.
  168. Sahibul Fadhilah s.a.w.
  169. Sahibul Izar s.a.w.
  170. Sahibul Hujjah s.a.w.
  171. Sahibus Sultan s.a.w.
  172. Sahibul Ridaa' s.a.w.
  173. Sahibud Darajaatir Rafiah s.a.w
  174. Sahibut Tajj s.a.w.
  175. Sahibul Maghfir s.a.w.
  176. Sahibul Liwaa' s.a.w.
  177. Sahibul Mi'raj s.a.w.
  178. Sahibul Qadhib s.a.w.
  179. Sahibul Buraaq s.a.w.
  180. Sahibul Khaatam s.a.w.
  181. Sahibul 'Alamah s.a.w.
  182. Sahibul Burhan s.a.w.
  183. Sahibul Bayaan s.a.w.
  184. Fasihul Lisan s.a.w.
  185. Mutahharul Janan s.a.w.
  186. Ra'uff s.a.w.
  187. Rahim s.a.w.
  188. Uzunukhair s.a.w.
  189. Sahihul Islam s.a.w.
  190. Sayyidul Kaunain s.a.w.
  191. 'Ainun Na'im s.a.w.
  192. 'Ainul Ghurr s.a.w.
  193. Sa'dullah s.a.w.
  194. Sa'dul Khalq s.a.w.
  195. Khatibul Umam s.a.w.
  196. 'Alamul Huda s.a.w.
  197. Kashiful Kurab s.a.w.
  198. Raafi'ur Rutab s.a.w.
  199. 'Izzul 'Arab s.a.w.
  200. Sahibul Faraj s.a.w.
{[['']]}

Tinggalkan jika bertentangan dengan Al-Quran dan Hadis

“Jika anda mendapatkan tulisan di rosyidi.com bertentangan dengan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa salam, maka tinggalkanlah apa yang aku katakan.”

Mengingat pelanggan artikel terbaru semakin meningkat dan saat tulisan ini dibuat sudah mencapai 952 email yang berlangganan. Karena itu statement diatas saya buat agar tidak langsung menerima apa adanya semua tulisan yang ada di Rosyidi.com. Kalimat tersebut saya buat mengacu pada perkataan 4 Imam Madzhab yang semuanya melarang taqlid buta :
Imam Asy-Syafi’i (Imam Madzhab Syafi’i) :

”Jika kalian mendapatkan di dalam kitabku apa yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka berkatalah dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tinggalkanlah apa yang aku katakan.” (Al-Harawi di dalam Dzammul Kalam,3/47/1)

.
Imam Abu Hanifah (Imam Madzhab Hanafi) :

“Tidak dihalalkan bagi seseorang untuk berpegang pada perkataan kami, selagi ia tidak mengetahui dari mana kami mengambilnya.” (Ibnu Abdil Barr dalam Al-Intiqa’u fi Fadha ‘ilits Tsalatsatil A’immatil Fuqaha’i, hal. 145)
Imam Malik ( Imam Madzhab Maliki):

“Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia yang kadang salah dan kadang benar. Maka perhatikanlah pendapatku. Setiap pendapat yang sesuai dengan Kitab dan Sunnah, maka ambillah. Dan setiap yang tidak sesuai dengan Al Kitab dan Sunnah, maka tinggalkanlah.” (Ibnu Abdil Barr di dalam Al-Jami’, 2/32)
Imam Ahmad bin Hambal ( Imam Madzhab Hambali )

“Janganlah engkau taqlid kepadaku dan jangan pula engkau mengikuti Malik, Syafi’i, Auza’i dan Tsauri, Tapi ambillah dari mana mereka mengambil.” (Al-Fulani, 113 dan Ibnul Qayyim di dalam Al-I’lam, 2/302)
Aliran yang benar :

Saat ini banyak terjadi perselisihan dalam urusan Agama. Semakin banyak pula bermunculan aliran-aliran sesat. Sebagian sudah dilarang, tapi tidak sedikit pula yang masih tumbuh subur di negara kita ini. Agar tidak keluar dari ajaran Rasulullah, mari kita simak wasiat terakhir Rasulullah,

dalam hadits yang diriwayatkan Abu Daud (4607), Tirmidzi (2676), Ibnu Majah (43 – 44), Ahmad, dll :
Sabda Rasulullah SAW : ‘Saya berpesan kepada kamu supaya sentiasa bertaqwa kepada Allah Azza wajalla serta mendengar dan taat sekalipun kepada seorang hamba yang memerintah kamu. Sesungguhnya orang-orang yang masih hidup di antara kamu akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Maka hendaklah kamu berpegang kepada sunnahku dan dan sunnah Khalifah Ar-Rasyiddin Al-Mahdiyyin yang memperoleh petunjuk ( dari Allah ) dan gigitlah ia dengan gigi geraham kamu ( berpegang teguh dengannya dan jangan dilepaskan sunnah-sunnah itu ). Dan jauhilah kamu dari pekara-pekara yang diadakan, karena sesungguhnya tiap-tiap bid’ah itu menyesatkan.‘

Allah Ta’ala berfirman : Hai orang – orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim. Dan berpeganglah kamu semua dengan tali Allah dan jangan berpecah belah. Dan ingatlah nikmat Allah terhadapmu ketika kamu saling bermusuhan maka Dia satukan hati kamu lalu kamu menjadi saudara dengan nikmat-Nya, dan ingatlah ketika kamu berada di bibir jurang neraka lalu Dia selamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menjelaskan kepada kamu ayat-ayat-Nya agar kamu mendapat petunjuk. (Ali ’Imran 102 – 103)

Jadi kuncinya adalah berpegangan pada Al-Quran dan As-Sunnah dengan didasari penafsiran Rasulullah para sahabat. Jadi jangan ikuti jika ada ulama yang tidak berpegang pada kedua hal tersebut.

”Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An Nisaa’:59)
Aliran yang salah :

1. Al-Quran berbeda : Jika Al-Qur’annya berbeda, maka sudah bisa dipastikan Aliran ini sesat, karena menambah-nambahi firman Allah. Ada beberapa Aliran yang semacam ini, misalnya Al-Qur’annya lebih tebal 3x lipat dibandingkan Al-Qur’an pada umumnya. Atau mungkin justru Al-Qur’annya dikurangi. Apalagi jika tidak menggunakan Al-Qur’an sama sekali, pasti bukan agama Islam.

2. Al-Qur’an tetap, Tapi tidak menerima Hadis : Ada juga yang beranggapan pakai bahwa Hadis itu berasal dari mulut manusia, jadi tidak patut diikuti. Padahal, bukankah Al-Qur’an juga disampaikan oleh seorang manusia juga. Selain itu semua yang dilakukan Rasulullah adalah berdasarkan Al-Qur’an. Kalau misalnya tidak memakai Al-Qur’an lalu, dia sholat dari mana dasarnya? Padahal cara-cara gerakan sholat itu semuanya ada di Hadis, di Al-Qur’an hanya secara garis besarnya saja. Jadi kalau ada berpaham semacam ini, maka sangat aneh. Disatu sisi dia sholat berdasarkan Hadis, tapi disisi lain dia tidak menerima hadis.
Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan * antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), (An-Nisaa’ : 150 )
* : Maksudnya: beriman kepada Allah, tidak beriman kepada rasul-rasul-Nya.
merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk
orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.(An-Nisaa’ : 151 )

3. Tidak pandang bulu soal Hadis : Semua hadis dipakai. Sahih, Hasan, Dhoif, bahkan palsu. Beranggapan semua hadis itu patut kita hormati. Atau banyak juga yang belum tau bahwa hadis itu adalah Dhoif (lemah) atau palsu.
Contohnya “Tuntutlah ilmu walaupun ke negeri Cina“. Hadi ini sering kita dengar dari mulut ke mulut. Dan hampir semua orang hafal.
Ibnu Hibban berkata : “Hadis tersebut bathil, tidak bersumber (dari Nabi Salallahu alaihi wa salam) sama sekali.
Imam Ahmad mengingkari dan membantah keras Hadis tersebut.
Walaupun maskud dari kalimat itu adalah baik. Namun tidak boleh menggunakannya sebagai dalil, karena itu sama dengan berdusta atas nama Rasulullah.
Banyak sekali hadis-hadis dhoif bahkan palsu yang lainnya beredar di masyarakat. Ini mungkin karena kesalahan dari sistem pengajaran dan pembelajaran masyarakat. Lihatlah pelajaran di Sekolah-sekolah kita. Hanya diajarkan, do’a makan itu gini, sholat itu gini, tanpa tau dalil-dalilnya dari mana sama sekali. Padahal tidak sedikit pelajaran tersebut memakai hadis Dhoif. Contoh do’a makan Allahuma bariklana…dst. Dan lain-lain.
Karena itu lihat dulu, siapa yang meriwayatkan hadis tersebut. Jika tidak ada riwayatnya sama sekali jangan pergunakan, bisa jadi itu hadis palsu.
“Barangsiapa menceritakan dariku satu hadits yang dianggap dusta, maka dia termasuk pendusta.”(HR. Muslim)
Sebagian besar para muhaqiq (peneliti hadits) berpendapat bahwa hadits dlaif tidak boleh diamalkan secara mutlak, baik dalam perkara-perkara hukum maupun keutamaan-keutamaan.
Syaikh Al-Qasimi rahimahullah dalam Qawaid At-Tahdits hal. 94 mengatakan bahwa pendapat tersebut (yakni hadits dlaif tidak diamalkan secara mutlak, pent) diceritakan oleh Ibnu Sayyidin Nas dalam ’Uyunul Atsar dari Yahya bin Ma’in dan dalam Fathul Mughits beliau menyandarkannya kepada Abu Bakar bin Al-Arabi. Pendapat itu juga merupakan pendapat Bukhari, Muslim dan Ibnu Hazm.

4. Tafsir berdasarkan Akal : Ibnu Katsir -rahimahullah- pun mengemukakan pula, bahwa menafsirkan Al-Qur’an tanpa didasari sebagaimana yang berasal dari Rasulullah -shallallahu’alaihi wasallam- atau para Salafush Shaleh (para shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in) adalah haram. Telah disebutkan riwayat dari Ibnu Abbas -radliyallahu ‘anhuma- dari Nabi -shallallahu’alaihi wasallam- :
“Barangsiapa yang berbicara (menafsirkan) tentang Al-Qur’an dengan pemikirannya tentang apa yang dia tidak memiliki pengetahuan, maka bersiaplah menyediakan tempat duduknya di Neraka.” (Dikeluarkan oleh At Tirmidzi, An Nasa’i dan Abu Daud, At Tirmidzi mengatakan : hadist hasan).
Tidak sedikit yang mengotak-atik Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemikirannya sendiri.

5. Menambah atau mengurangi : Tidak menambahi atau mengurangi ajaran agama. Misalnya Adzan, lafadznya itu jangan ditambah dan dikurangi. Contoh lafadz yang sudah ditambahi dan sangat populer adalah takbiran. Sering kita dengar lafadznya :
Allahu Akbar
Allahu Akbar
Allahu Akbar
Laa ilaaha illallah Wallahu Akbar
Allahu Akbar Kabiro
Wal hamdulillahi katsiro
Wa Subhanallahi Bukratan Wa Ashila
Laa Ilaaha Illallahu La Na`budu Illaa Iyyah,
Muhklishina Lahud-din, Walau Karihal Kafirun.
Laa Ilaaha Illallahu wahdah,
Shadaqo Wa`dah,
Wa Nashara `Abdah,
Wa A`azza Jundahu Wa Hazamal Ahzaaba Wahdah.
Laa Ilaaha Illallahu Wallahu akbar
Allahu Akbar Wa Lillahil-hamd

Padahal Seperti Ibnu Mas’ud, ia mengucapkan takbir dengan lafadh :
Allahu Akbar
Allahu Akbar
Laa ilaha illallaha, wa Allahu Akbar,
Allahu Akbar wa lillahil hamdu.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/168 dengan isnad yang shahih)

Diriwayatkan dari Ibrahim An Nakha’i, ia berkata, “Mereka bertakbir pada had ’Arafah. Diantara mereka ada yang menghadap kiblat setelah selesai shalat sambil mengucapkan:
Allahu Akbar,
Allahu Akbar,
Laa ilaha illallahu, Wallahu Akbar,
Allahu Akbar walillahil hamd.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf 5649 dengan sanad shahih)

Adapun lafazh takbir; telah diriwayatkan dari sebagian sahabat, diantaranya ialah takbir Abdullah bin Abbas :
Allahu Akbar
Allahu Akbar
Allahu Akbar, wa lillahil hamdu,
Allahu Akbar, wa Ajalla
Allahu Akbar ‘alaa maa hadanaa.
(Diriwayatkan oleh Al Baihaqi 3/315 dan sanadnya shahih)

Dan riwayat lainnya. Dan tidak ada riwayat yang menyebutkan takbiran seperti yang yang takbir jenis pertama diatas. Lalu darimanakah kalimat Allahu Akbar Kabiro, Wal hamdulillahi katsiro, Wa Subhanallahi Bukratan Wa Ashila, Laa Ilaaha Illallahu ,La Na`budu Illaa Iyyah, Muhklishina Lahud-din, Walau Karihal Kafirun. Laa Ilaaha Illallahu wahdah, Shadaqo Wa`dah, Wa Nashara `Abdah,Wa A`azza Jundahu Wa Hazamal Ahzaaba Wahdah berasal ?

Sepertinya itu mirip-mirip dengan do’a iftitah yang hadisnya dhoif :

Allahuakbar kabiro 3x
Alhamdulillahikatsira 3x
Wa Subhanallahi Bukratan Wa Ashila 3x
Allahumma inni audhubika minasyaitonirrajim min hamdzihi wa nafkhihi wa naftsihi
( Diriwayatkan oleh Abu Daud, 764, dalam Kitab Iqamah Ash-Shalah, Bab Ma Yustaftah bihi ash-Shalah min ad-Du’a;
Al-Albani dalam buku Dha’if Sunan Abu Daud, 166, berkomentar bahwa hadis tersebut dha’if. )

.

Lalu lanjutannya mirip do’a Sa’i perjalanan ke-6 dari bukit Marwah ke Safa :

Allahu Akbar
Allahu Akbar
Allahu Akbar walillahil hamdu.
La ilaha illallahu wahdah,
sadaqa wa’dah,
wanasara ’abdah wahazamal ahzaba wahdah.
La ilaha illallahu wala na’budu illa iyyahu mukhlisina lahuddina walau karihal kafirun.
( Kami belum bisa menemukan ini hadis atau bukan. Dan jika hadis juga tidak tau riwayat siapa.)

Versi lainnya yg saya ketahui asal usulnya :
“… Maka dinaikinya bukit Shafa. Setelah kelihatan Baitullah, lalu dia menghadap ke kiblat seraya mentauhidkan Allah dan mengangungkan-Nya. Ujarnya : “La ilaha illallahu wahdahu la syarikalahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ’ala kulli syaiin qadir. La ilaha illallahu wahdahu, anjaza wa’dahu wa nashara ’abdahu wa hazamal ahzaba wahdahu….”
( Sahih Muslim, 1188. dalam Terjemah Hadis [ringkasan-red] terbitan KBC )

Mungkin saat ini cuma ditambahi itu, namun jika hal itu tetap dibiarkan, tidak menutup kemungkinan, suatu saat akan berkembang lagi. Kalimatnya akan semakin panjang. Aneh bukan. Jadi biarkan ajaran Rasulullah itu apa adanya. Jangan ditambah ataupun dikurangi. Penambahan bukan berarti menjadi lebih baik, justru sebaliknya. Karena intinya penentangan terhadap agama yang telah sempurna ini.
Apa mereka mendapat wahyu, dengan menambah-nambah hal tersebut?
Apakah mereka ikut para sahabat? padahal para sahabat tidak menambah-nambahi.
Apakah ikut Rasulullah? padahal Rasulullah tidak menambah apalagi mengurangi.
Kalau ada yang mengatakan, “Itukan tujuannya baik?”, menurut siapa? menurut mereka yang menambahkannya bukan.
Berarti mereka menganggap dirinya lebih baik dari Rasulullah, karena menganggap Rasulullah tidak tau ada yang lebih baik, atau bahkan menuduh Rasulullah tidak mengajarkan sesuatu yang lebih baik itu.

W’allahua’lam bishowab.

Ditulis oleh Agam Rosyidi
{[['']]}
Facebook Twitter LinkedIn Google Plus RSS Feed Favorites More

Popular Posts

Followers

get this
 
Copyright © 2011 - TeDjo's Blog
Created by : Teguh Rahardjo's Blogger